Abrasi Mansinam Harus Keroyokan

Abrasi di bagian selatan Pulau Mansinam
Harus ada kerja sama sinkron antara pemerintah, masyarakat dan gereja dalam menangani persoalan abrasi di Pulau Mansinam. Ini ditegaskan Ketua Klasis GKI Manokwari, Pdt. Simon Petrus Bisay, menjawab papuakini.co di ruang kerjanya, Rabu (29/3).
Menurutnya, sejauh ini Pemprov sudah memberikan kontribusi dengan mendirikan Badan Penanganan Situs Mansinam. “Kami mendukung dan mengapresiasi, namun harus ada keterlibatan dari unsur masyarakat dan klasis,” ungkapnya.
“Kami Klasis tidak terlibat dalam badan pengelolaan situs sehingga sejauh ini kami tidak tahu hasil yang sudah dicapai,” tambahnya, lalu mengatakan dalam mengatasi persoalan abrasi di Mansinam, Klasis sangat minim dalam hal keuangan.
Ketua Klasis GKI Manokwari, Pdt. Simon Petrus Bisay.
Kendati demikian, dia mengakui Pulau Mansinam adalah tanggung jawab gereja. “Namun menurut Badan Pekerja Klasis, itu tidak boleh. Harus melibatkan masyarakat khusus di Mansinam, pemerintah dan gereja,” tegasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sejumah warga Mansinam meminta pembangunan tembok penahan ombak di pulau itu ditambah di beberapa tempat yang belum memiliki tembok seperti itu.
Bisay kemudian mengingatkan Pulau Mansinam merupakan tempat peradaban orang Papua yang patut diperhatikan oleh semua komponen yang mendiami Bumi Papua. “Karena dari Mansinam terpancarlah seluruh kehidupan di Papua,” ucapnya.
Menurutnya hal ini terjadi karena ada beberapa faktor. Antara lain, diantaranya, masyarakat yang berada di pulau tersebut, ekonomi, alamiah dan perubahan hidup sosial.
Sambungnya, abrasi yang terjadi itu kembali pada penduduk yang ada di Mansinam.
Penangkal ombak di Pulau Mansinam
Penduduk yang ada di Mansinam pertama merasa memiliki pulau itu. Rasa memiliki sudah termasuk melindungi diri sendiri, dan melindungi seluruh aset yang ada, hutannya sampai pada marga satwa dan pesisir pantai sekeliling pulau itu. “Bukan hanya persoalan abrasi yang jadi perhatian,” tuturnya.
Ia mencontohkan, satwa yang dulu jadi ikon seperti kelelawar kini sudah jarang dilihat.
Pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi termasuk abrasi di pulau itu, padahalnya awalnya tidak?
“Awalnya pulau itu sangat indah dipilih Tuhan untuk tempat pendaratan Injil. Mengapa Injil sudah jalan setengah abad lebih, lalu perilaku kita belum mencerminkan Injil?” tegasnya.
Sambungnya, kita harus bangun hubungan yang baik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Allah. Kita tidak bisa memprediksi alam tetapi kita diberi otoritas untuk mengelola alam ciptaan Tuhan.
“Masyarakat asli Mansinam harus menjaga lingkungan tempat tinggalnya, jangan menebang pohon sembarangan. Masyarakat harus budayakan menanam pohon di pesisir pantai,” ucapnya.(pk2/dixie)
Baca Juga :
Ijie: Banyak Privilege, Tak Adil Selalu Salahkan Pusat