Semua pejabat pemerintah di Tanah Papua harus komit dalam mengawal hak inelektual seni budaya Papua.

“Ketika bicara seni budaya, maka bicara identitas sebuah suku. Pesan saya untuk pengurus, jaga hak intelektual seni budaya Papua dengan baik. Kami anak Papua yang duduk di pemerintahan akan mengawal itu,” ujar Plh Sekprov Papua Barat, Origenes Idjie, kala menutup Festifal (sic) Seni Budaya Rakyat Papua Barat 2017 di GOR Sanggeng, Jumat (10/11).

Selain identitas, seni dan budaya merupakan bentuk karakter yang membuat Papua unik dari daerah lain. “Kalau ada pejabat anak Papua yang duduk di pemerintahan dan tidak ikut mengawal hak intelektual seni dan budaya, maka keluarlah dari negeri ini,” sebutnya.

Idjie juga berpesan agar beberapa hal yang berkaitan dengan seni budaya dapat dibukukan, sehingga bisa menjasi edukasi muatan lokal di sekolah. “Ini adalah kearifan lokal yang bisa masuk dalam kurikulum mulok,” ungkapnya.

Festival yang digelar sejak 7 November ini mengambil tema “Mengangkat dan melestarikan nilai seni dan budaya di tengah era globalisasi yang bermartabat, mandiri dan sejahtera.”

Festival ini diikuti empat seniman lukis dan 20 seniman ukir, 46 grup seni, 11 grup musik tradisional, 35 grup tari, dengan total 678 orang peserta. Selain itu juga, ada pula kontingen dari Sorsel dan Maybrat.

Ketua Panitia Pelaksana Festival, Yan Makabori, dalam laporannya mengatakan, Dewan Kesenian Tanah Papua Provinsi Papua Barat, sebagai pihak yang menyelenggarakan festival, akan menggelar pesta rakyat di 10 titik di Manokwari.

“Antara lain di Rendani Pantai, Swapen Bahari, Swapen Perkebunan, Pulau Mansinam, Pulau Lemon, dan Pasir Putih,” tuturnya.

Dalam pesta rakyat tersebut itu masyarakat akan dihibur oleh para peserta yang tampil dalam festival tersebut.(njo)