Ini Peran Schneider Electric di PLTMG Nabire dan Jayapura

Persiapan peresmian PLTMG MPP Kalibobo Nabire 20 MW. (foto: ist/Schneider Electric)
Persiapan peresmian PLTMG MPP Kalibobo Nabire 20 MW. (foto: ist/Schneider Electric)

Schneider Electric, perusahaan global spesialis dalam hal transformasi digital di bidang manajemen energi dan otomasi yang punya perwakilan perwakilan di lebih dari 100 negara, turut terlibat dalam acara peresmian proyek Pembangkit Listrik Mesin Gas Mobile Power Plant (PLTMG MPP) Holtekamp Jayapura 50, MW, proyek PLTMG MPP Kalibobo Nabire 20 MW, peresmian 74 Desa Berlistrik di Papua dan Papua Barat.

Di dua PLTMG MPP ini Schneider Electric menghadirkan solusi unggulannya yang sangat terintegrasi, dari project management hingga pemasangan di lapangan, yaitu Electrical House (E-House) atau Power House sebagai solusi distribusi listrik terintegrasi dalam satu sub-station yang terdiri dari panel listrik Medium Voltage (MV) dan Low Voltage (LV), transformer, HVAC, UPS serta sistem pengelolaan dan kontrol bangunan.

Solusi ini dibangun berkolaborasi dengan PT. Pembangunan Perumahan sebagai pihak pemasok Engineering, Procurement and Construction (EPC) utama.

“Solusi E-House dari Schneider Electric yang menjadi bagian vital dari kedua PLTMG ini, sekaligusbukti nyata komitmen kami untuk terus mendukung pemerintah dalam mewujudkan program nasional pembangkit listrik 35.000 MW, dalam hal ini untuk memperkuat sistem kelistrikan di wilayah Papua dan Papua Barat, khususnya Jayapura dan Nabire,” ujar Xavier Denoly, Country President Schneider Electric Indonesia, dalam siaran persnya ke papuakini,co, Kamis (21/12).

Rangkaian panel listrik MV dan LV di dalam E-House Schneider Electric. (foto: ist/Schneider Electric)
Rangkaian panel listrik MV dan LV di dalam E-House Schneider Electric. (foto: ist/Schneider Electric)

E-House dari Schneider Electric dibuat, dirakit dan diuji sebelumnya di pabrik (pre-fabricated) dan dikirim sebagai solusi terintegrasi penuh untuk memenuhi berbagai kebutuhan di lapangan.

Metode ini telah terbukti dapat mengurangi waktu konstruksi serta mengoptimalkan biaya transportasi dan pemasangan secara signifikan. Dari sisi sumber daya manusia pun jauh lebih efisien karena perakitannya dilakukan di satu tempat.

“Berkat berbagai keunggulan tersebut, Schneider Electric dapat menyelesaikan seluruh proses pembuatan E-House, mulai dari pemesanan hingga pengantaran ke site hanya dalam waktu 4,5 bulan,” tutur Xavier, lalu menyatakan Schneider tengah terlibat di 25 proyek pembangkit listrik di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga :
Program 35000 MW Listrik Merata di Papua Barat

Selain itu, E-House juga dilengkapi dengan EcoStruxure™ Grid yang merupakan bagian dari arsitektur dan platform EcoStruxure™ yang terbuka, dan beroperasi dengan bantuan Internet of Things (IoT).

EcoStruxure™ Grid dapat menyederhanakan kompleksitas operasional grid, mengoptimalkan pengelolaan aset serta memanfaatkan berbagai peluang baru yang diciptakan oleh digitalisasi di bidang utilitas.

“PLTMG MPP Holtekamp Jayapura dan PLTMG MPP Kalibobo Nabire diharapkan mampu menjawab persoalan listrik masyarakat setempat, sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka,” timpal Mochammad Ichsan, Senior Project Manager PT Pembangunan Perumahan.(***/dixie)