Merasa Dihalang-halangi, Sejumlah Wartawan Pilih Tinggalkan Mapolda PB

Sejumlah wartawan dari beberapa media massa memilih meninggalkan lokasi peresmian Mapolda Papua oleh Kalpolri Jendral Polisi Tito Karnavian, Senin (29/1) jelang siang tadi.

Pasalnya, mereka merasa dihalang-halangi saat melakukan peliputan kegiatan tersebut.

Wartawan Papua Barat Pos di Manokwari, Aris Balubun, melakukan protes saat berhasil masuk di tengah ruang lobi Mapolda Papua Barat setelah sempat didorong oknum anggota.

Dia juga menyampaikan uneg-uneg saat beberapa kali sejumlah oknum Polisi terkesan menghalangi pengambilan foto.

“Di Bandara Manokwari kemarin (Minggu) saat kedatangan Kapolri, kita tidak boleh wawancara, karena hari ini (Senin) akan diberikan waktu. Kita tidak boleh masuk saat pengguntingan pita.
Ketika masuk ke dalam pintu, saya didorong, beberapa teman di tarik. Mapolda itu sarana publik,” ujarnya.

Tindakan in, kata Aris, telah menimbulkan luka terhadap profesi wartawan.

“Tadi waktu keluar, Kabid Propam Polda Papua Barat (Kombespol Rudi Prasetya) sampaikan permohonan maaf dan sempat mengatakan “Karena ini ada instruksi”. Kami tidak tahu instruksi apa yang dimaksud. Yang jelas kedatangan Kapolri kali ini jadi pengalaman pahit pers di Papua Barat untuk kali ini,” ungkapnya.

Mathias Renyaan, ( MNC) Alex Tethool (Metro TV), Safwan Ashari Raharusun (Cahaya Papua), Frans (Papua Barat News), juga diminta duduk saat hendak mengambil gambar. Alasannya, mereka menghalangi pandangan tamu undangan.

Ketua Bidang Advokasi PWI Papua Barat, Kris Tanjung, menambahkan bahwa gelagat menghalangi halangi wartawan ini sudah sejak Kapolri tiba di bandara Manokwari, Minggu sore kemarin.

“Yang kami dengar tadi, seluruh tamu undangan dipersilahkan masuk tanpa ada kata pengecualian. Kita diundang resmi oleh Bid Humas. Saat mau masuk, kenapa kita dihalang-halangi? Kita juga diberi waktu wawancara dengan sistem door stop yang menurut kami hanya 5 menit,” ungkapnya.(njo)