4 Wartawan Injak Telapak Tangan Ketua DPRD Kaimana

Hari itu, Selasa, 21 Februari 2018, Frans Amerbay, SE Ketua DPRD Kaimana menginformasikan kepada Pekerja Pers bahwa beliau  rencana berkunjung ke Distrik Teluk Etna, tepatnya ke PT Avona Mina Lestari dalam rangka kunjungan kerja Komisi-Komisi di Dewan.

Beliau juga menawarkan kepada kami untuk ikut serta dalam perjalanan ini jika berkenan.

Akhirnya saya yang adalah wartawan papuakini.co bersama 3 orang wartawan lain mengiyakan untuk ikut dalam kunjungan ini, sekaligus melihat dari dekat kondisi terkini perusahan ikan terbesar di Kaimana yang telah ditutup sejak tahun 2015 lalu itu.

Pada hari Rabu malam sekira pukul 20.00 WIT, masuk pesan WhatsApp di dari Ketua DPRD tentang hari dan waktu keberangkatan, yaitu Kamis pukul 09.00 WIT, dengan titik kumpul di Pantai Kampung Seram.

Kami berkumpul sesuai jadwal yang telah ditentukan. Setelah memastikan semua barang bawaan lengkap, kami naik speed boat dengan dua motor tempel masing-masing 40 PK meninggalkan pantai Kampung Seram sekira pukul 09.13 WIT.

Apena Amerbay dan Rian Amerbay yang bertugas sebagai nakhoda   mempercepat laju speedboat hingga berkekuatan penuh.Tak lama kemudian, Kota Kaimana mulai hilang ditelan lautan.

Di dalam speed kami  bercanda dan bersenda gurau dengan Ketua DPRD, sambil menikmati indahnya gugusan beberapa pantai berpasir putih yang kami lewati dalam kondisi laut yang pagi itu benar-benar sangat bersahabat.

Tak lama kemudian, kami meninggalkan Tanjung Bicari melewati beberapa buah bagan ikan yang biasanya menjadi tempat mencari makan belasan ikan raksasa Hiu Paus.

Di kawasan ini kami juga menikmati gambar-gambar kuno berbagai bentuk di tebing batu sekira 10 sampai 15 meter diatas permukaan air laut yang diperkirakan telah berumur ribuan tahun tahun.

Tak berapa lama kemudian, Oom Apena mengurangi laju speedboat kami saat  akan sandar di dermaga pelabuhan laut PT Industri Perikanan Namatota untuk membeli es batu, karena kami memang berencana untuk memancing usai segala urusan dinas Ketua DPRD tuntas.

Setelah membeli beberapa balok es batu dan mengisinya ke dalam cool box, kami pun kembali melanjutkan perjalanan.

Lambaian tangan para karyawan perusahan ikan ini disertai ucapan selamat jalan untuk Ketua DPRD melepas kepergian kami.

Speedboat kembali melaju dengan kekuatan penuh. Gugusan pulau karang tempat wisata terpopuler di Kaimana, Teluk Triton, tampak di kejauhan dari tempat kami melintas.

Beberapa saat kemudian, canda dan tawa kami mulai hilang diganti kantuk yang mulai melanda. Posisi duduk sambil menutup mata menjadi salah satu alternatif bagi kami untuk sekedar mengistirahatkan mata.

Speed  boat masih tetap melaju dengan kencang. Bunyi dua buah mesin 40 PK yang saling beriringan membelah teriknya mentari di siang itu. Perlahan tapi pasti, angin selatan mulai bertiup.

Beberapa kali kami sempat berpapasan dengan long boat milik masyarakat lokal yang sedang mencari ikan untuk dijual ke perusahaan, termasuk beberapa kapal pemancing milik PT Industri Perikanan Namatota yang sedang boperasi.

Tiba-tiba kami semua terbangun akibat pukulan gelombang berukuran sedang menghantam speed boat kami. Beberapa penumpang  mulai memegang erat pinggiran speed boat, sementara Oom Apena yang sudah sangat berpengalaman di medan seperti ini malah tak menurunkan laju speed.

Ketua DPRD tersenyum melihat perilaku kami langsung memberitahu jika saat ini kami tengah berada di Tanjung Nabima, yang terkenal sangat berbahaya jika musim angin Timur tiba.

Dinding batu yang menjulang tinggi dan menakutkan sekira 100 meter ini menambah seramnya tempat ini.
Di bagian bawahnya terdapat rongga-rongga batu yang lumayan dalam, sehingga membuat siapapun yang tenggelam disini memiliki peluang kecil untuk menyelamatkan diri, kecuali dapat bertahan dan berenang ke pesisir lain.

Menurut Ketua DPRD, di Kaimana ada dua tempat yang paling ditakuti yakni Tanjung Nabima dan Tanjung Boy, yang dua-duanya ada di wilayah perairan Distrik Teluk Etna. Dua tempat ini sudah sering memakan korban apalagi di musim angin Timur.

Beberapa menit kemudian, kami pun meninggalkan Nabima dan langsung merapat di salah satu pantai berpasir putih yang terdapat di ujung tanjung ini untuk makan siang.

Setelah speed boat merapat ke darat kami justru tak diijinkan turun.
Kami sempat kaget atas permintaan ini, namun ternyata orang nomor satu di DPRD Kaimana itu hendak membuat prosesi adat untuk penyambutan orang baru.

Tanpa menunggu lama, Ketua DPRD turun dari speed dan mengambil pasir lalu menaruhnya di telapak tangannya. Ketua meminta kami untuk menginjaknya sebelum turun ke darat.

Permintaan ini sempat membuat kami keberatan dan tak mau melakukan, karena merasa tak etis menginjak telapak tangan salah satu pejabat di Kaimana ini. Namun karena berulangkali diminta, kami akhirnya melakukanya.

Satu per satu dari kami pun secara bergilir mulai meletakkan kaki di atas pasir yang berada pada kedua telapak tangan Ketua DPRD ini, dan kemudian turun ke pantai.

“Ini adalah salah satu prosesi adat masyarakat di sini untuk menyambut pendatang baru, agar orang tersebut secara adat diterima, sehingga selama perjalanan di tempat ini tetap dilindungi oleh para leluhur,” terang Ketua DPRD yang juga pria asli Etna ini.

Dirinya menyebut, masyarakat adat di tempat ini juga percaya bahwa di setiap wilayah ada penghuninya. Jadi kalau tidak melalui prosesi adat ini, orang asing tersebut pasti akan sering diganggu.

Usai makan siang, kami kembali menempuh perjalanan melewati perusahan mutiara dan Kampung Syawatan hingga tiba di PT Avona Mina Lestari pada pukul 14.30 WIT.

Deretan puluhan kapal ikan yang telah berkarat, serta ditumbuhi pohon-pohon kecil menjadi pemandangan pertama yang kami jumpai di sini. Di setiap sudut pelabuhan yang dulunya sangat ramai ini tak tampak seorang karyawan pun.

Setelah turun dari speed boat kami melangkahkan kaki menuju ke kantor perusahan, namun di tempat ini lagi-lagi tak ada orang. Semua pintu dan jendela tertutup rapat. Tak ada aktivitas sama sekali.

Baca Juga :
Pemprov Papua Barat Dukung Konferensi Masyarakat Adat Papua Gelar di Kaimana

Tak lama kemudian, datang salah satu karyawan yang kebetulan berada di pos penjagaan, memberitahu jika Pak Mawardi, big boss di perusahan ini sedang berada di mes perusahaan.  Kami diminta untuk merapat ke sana.
Mendengar informasi ini, kami melangkahkan kaki ke arah mess tersebut, dan ternyata orang nomor satu di perusahaan itu sudah menunggu di sana.

Di sinilah kami kemudian memberikan ruang kepada dua pimpinan ini untuk menyelesaikan berbagai hal yang menjadi tujuan kedatangan Ketua DPRD.

Kami para wartawan langsung menyebar ke beberapa titik untuk mencari berita.
Usai menemui sekaligus mewawancarai beberapa narasumber, kami langsung kembali ke kantor PT Avona Mina Lestari. Di sini, kedua pucuk pimpinan ini ternyata belum juga selesai berdiskusi, membuat kami harus menunggu.

Akhirnya setelah semua urusan Ketua DPRD tuntas, kami kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 16.08 WIT menuju Viema Beach, yang selama ini menjadi tempat istirahat Ketua DPRD di waktu senggang.

Kekuatan angin kian bertambah membuat Oom Martinus beberapa kali harus mengurangi laju speed boat mengikuti irama gelombang yang datang silih berganti.

Sekira 40 menit kemudian, kami tiba di Tanjung Boy yang selama ini paling ditakuti karena gelombangnya yang tidak beraturan.

Hantaman gelombang berukuran besar di tempat yang pada bulan Januari 2018 lalu sempat menelan 4 korban jiwa ini membuat kami yang berada di dalam speed boat menjadi tegang.

Di bagian belakang, dua orang pembantu juru mudi sibuk mengeluarkan air yang masuk kendalam speed boat, sementara kami basah kuyup akibat percikan air yang masuk ke speed boat.

Tak lama kemudian, kejadian menegangkan terjadi. Gelombang yang datang dari semua arah membuat air laut masuk ke dalam speed. Di bagian belakang datang gelombang berukuran sekira 5 meter yang sudah siap melahap speed boat kami.

Teriakan diiringi tangisan para ibu menambah suasana tegang ketika itu.
Kami yang berada di bagian depan langsung memegang erat pinggiran speed boat, seakan tak ingin melepaskanya.

Ketua DPRD yang ketika itu duduk di bagian belakang turut mengambil bagian mengeluarkan air yang masuk ke dalam speed boat.

Beruntung, dengan sigap dan tenang, Martinus bisa mengusai keadaan. Dengan cekatan pria yang sudah berulangkali melintas di tempat ini langsung menjauhkan speed boat dari gelombang besar yang ada di belakang kami.

Teriakan para ibu masih terdengar. Mereka  meminta juru mudi membawa kami ke arah laut, karena speed kami sudah mendekati tebing akibat pukulan ombak. Pemintaan ini langsung direspon juru mudi sambil mengunyah pinang.

Perlahan tapi pasti, gelombang yang datang dari semua sisi itu bisa kami lewati dengan laju speed boat yang tidak menentu, hingga akhirnya wilayah ini kami tinggalkan dan masuk ke zona aman.
Wajah tegang bercampur keceriaan kembali nampak di wajah kami.
Ketua DRPD yang terlihat sangat tenang l mulai membuka percakapan kami.

“Inilah yang selalu menjadi rintangan bagi masyarakat maupun ASN yang berada di Distrik Teluk Etna untuk bolak-balik ke kota Kaimana. Ada yang justru tidak selamat ketika lewat di tempat ini,” tutur Ketua DRPD.

Melihat kondisi ini saya pun tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin seorang Ketua DPRD seringkali turun ke kampungnya untuk bertemu masyarakat, walau nyawa taruhannya.

Speed boat kembali melaju dengan kekuatan penuh hingga akhirnya kami tiba di Viema House yang menjadi tempat istirahat kami selama berada di Distrik Teluk Etna.

Hamparan pasir putih halus di sepanjang bibir pantai dihiasi pohon ketapang hutan dan pohon kelapa yang menjulang ke laut membuat kami sungguh terpukau.

Setelah semua barang bawaan kami diturunkan lalu diangkut ke sebuah pondok kecil bernama Viema House yang berada di tepi pantai. Tanpa istirahat, kami langsung mengeluarkan alat pancing dan mulai memasang umpan. Dengan hanya berdiri dipinggiran pantai, kami berhasil menarik beberapa jenis ikan karang berukuran dua telapak tangan untuk hidangan makan malam.

Sungguh luar biasa ditambah dengan hadirnya beberapa penyu yang lewat di hadapan kami sambil sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil udara.

“Inikah yang dibilang surga kedua?” tanya Eddy, wartawan dari salah salah satu media cetak di Manokwari.

Di tempat inilah kami tinggal selama tiga hari sambil mengunjungi masyarakat di beberapa kampung.

Kami kembali ke Kaimana pada hari Minggu, 25 Februari pada pukul 08.07 dari Viema Beach.

Dalam perjalanan pulang, kami singgah di beberapa pulau yang menjadi tempat istirahat para neleyan tradisional yang mencari ikan.

Ketua DPRD Kaimana sekaligus menyerap aspirasi dan masukan dari mereka di sini.

Salah satu pesisir pantai yang hamparan pasirnya berwarna pink juga kami singgahi untuk selfie bersama.

Sekira 20 meter di balik pesona pasir pink ini, ada danau berukuran kecil yang memanjakan mata.

“Itulah Kaimana dengan sejuta pesona alam. Mulai dari Teluk Triton, gambar kuno di dinding batu, ikan hiu paus, hamparan pasir berwarna pink,  Pulau Venu yang menjadi tempat berkembang biak berbagai jenis penyu langka, dan air terjun kiti-kiti. Tempat-tempat inilah yang akan dikembangkan menjadi destinasi wisata dunia,” ungkap Ketua DPRD.

Usai wefie, kami kembali ke dalam speed boat dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di Kaimana pada pukul 12.25 WIT.(cpk3)