10 Rekomendasi TPID Papua Barat: Dari Jaman Now, Pola Bertani, Produk Turunan, Sampai Investasi

10 Rekomendasi TPID Papua Barat: Dari Jaman Now, Pola Bertani, Produk Turunan, Sampai Investasi
Screenshot PIHPS Nasional Papua Barat 4 Juni 2018 pagi tadi.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Papua Barat mengusulkan 10 rekomendasi ke Gubernur. Rekomendasi itu bervariasi dari teknologi jaman now, pola bertani, produk turunan, sampai ke investasi.

Rekomendasi yang dibacakan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat Donny H Heatubun itu dikeluarkan berdasarkan identifikasi 10 komoditas utama penyebab inflasi di Papua Barat dalam periode Januari 2014 sampai April 2018.

Sembilan dari 10 komoditas itu adalah volatile food (telur ayam ras, bawang merah, sayur-sayuran, cabai merah, gila pasir, ikan segar, cabai rawit, bawang putih, dan daging ayam ras) serta administered price (tarif angkutan udara alias harga tiket pesawat terbang).

Rekomendasi jaman now yang diusulkan adalah pembuatan sistem informasi harga pangan berbasis mobile dengan sistem Android. Sistem itu, dilengkapi dengan papan pengumuman di tempat-tempat umum, berisikan informasi harga bahan pokok di pasar-pasar rakyat yang jadi acuan pembeli.

Sejumlah aplikasi terkait pertanian basis Android.

Untuk urusan pantauan harga pangan ini, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) memiliki situs Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional (hargapangan.id) yang juga bisa diakses melalui aplikasi Android dan iOS.

Rekomendasi ini terkait dengan rekomendasi lainnya, yaitu pembentukan TPID di Kabupaten Maybrat, Sorong Selatan, Manokwari Selatan, dan Pegunungan Arfak, menyusul TPID yang sudah terbentuk di delapan kabupaten dan 1 kota serta 1 provinsi.

Selain itu, rekomendasi jaman now itu juga terkait dengan usulan perlunya penguatan data untuk penyusunan neraca surplus defisit pangan dan perdagangan, yang bisa jadi acuan pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tepat.

TPID juga mengusulkan sosialisasi tentang pola tanam petani oleh instansi terkait. Sosialisasinya adalah perubahan pola tanam dari konvensional, di mana seluruh lahan ditanami secara bersamaan ke pembagian lahan yang ditanami dalam waktu berbeda-beda. Dengan demikian, panen tidak akan terputus.

Terkait hasil panen berlimpah, TPID menyarankan ada sosialisasi pengolahan komoditas menjadi produk-produk turunan. Cabai misalnya bisa diolah menjadi sambal botol, sedangkan bawang dapat diolah menjadi bawang goreng kemasan. Ini membuat harga bisa stabil terjaga, alias tidak anjlok, karena oversupply saat panen raya.

Terkait investasi, ada empat hal yang diangkat TPID.

Charoen Pokphand Group dari Thailand adalah produsen pakan ternak, termasuk unggas, terbanyak di dunia.

Pertama, pembangunan kios/rumah penyeimbang harga yang dikelola Bulog di pasar rakyat. Kios/rumah itu akan jadi acuan harga pembeli dalam menentukan harga wajar bahan pokok, sekaligus sarana operasi pasar Bulog.

Kedua, menggaet pihak ketiga untuk mengidentifikasi ketersediaan pasokan dan jumlah kebutuhan komoditas unggas. Pihak ketiga itu juga bertugas mengidentifikasi potensi budidaya, ketersediaan pakan, dan rumah potong unggas.

Ketiga, pembangunan pabrik pakan ayam oleh pemerintah daerah dan asosiasi usaha. Pabrik itu dapat memasok kebutuhan dalam provinsi dengan proyeksi ke depannya bisa jadi pemasok ke provinsi lain.

Keempat, pembangunan dan optimalisasi cold storage oleh pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mengantisipasi kelangkaan ikan segar saat cuaca buruk.

Terkait harga tiket pesawat, TPID menyarankan pemerintah daerah dan TPID berkoordinasi dengan maskapai-maskapai penerbangan.

Selain itu, TPID juga merekomendasikan koordinasi dengan Satgas Pangan Polda Papua Barat dan pelaku usaha untuk menjaga stabilisasi harga dan ketersediaan pasokan bahan pokok.(***/dixie)