Dolfina Mansnembra, Calon Pakar Laser dari Tanah Papua

Dolfina Mansnembra adalah mahasiswi asal Biak yang kini sedang menempuh studi Teknik Laser di FH Münster, Jerman. Di situs DW (Deutsche Welle) dia menceritakan banyak hal.

Dilansir MSN, dia adalah mahasiswa Teknik Laser di kampus Fachhochschule (FH) Münster. Jurusan yang belum ada di Indonesia itu didominasi pria. Di jurusan itu Dolfina merupakan satu-satunya mahasiswi asing di antara teman seangkatannya.

Kecintaan awal Dolfina terhadap teknik berawal dari kebenciannya terhadap fisika. Namun rasa bencinya justru berubah menjadi rasa penasaran untuk mendalami bidang ini sampai akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di jurusan teknik.

Dolfina tertarik dengan teknik laser karena merupakan jurusan yang baru berkembang dan belum banyak peminatnya.

Dolfina Mansnembra, Calon Pakar Laser dari Tanah Papua
Dolfina menjelaskan suatu topik ke Muhamad Yunus, mahasiswa asal Subang, yang juga kuliah di jurusan Teknik Laser, FH Münster.

Kegunaan laser dalam kehidupan sehari-hari yang paling sederhana, sepeti dilansir Deutsche Welle (DW), adalah pointer laser untuk presentasi. Tapi yang saat ini paling terkenal adalah dalam bidang kesehatan. Laser dapat digunakan untuk mengoreksi atau memperbaiki retina mata pada cacat mata. Ini yang biasanya kita kenal dengan nama operasi lasik (laser-assisted in-situ keratomileusis).

Saat kuliah, ada pengalaman tidak terlupakan Dolfina, yaitu kala dia praktik sendirian di laboratorium selama satu semester. Itu adalah pengalaman pertama bagi Dolfina yang terbiasa praktik dalam keompok kecil 2-3 orang.

Kuliah yang tidak mudah tentu harus diimbangi dengan belajar dengan giat. Setelah selesai kuliah, biasanya Dolfina mengulang pelajaran di area Selbstlernbereich (ruangan dimana mahasiswa bisa belajar sendiri atau berkelompok).

Dolfina Mansnembra, Calon Pakar Laser dari Tanah Papua
Jurusan Teknik Laser FH Münster didominasi oleh mahasiswa pria. Di antara teman-teman satu angkatannya yang berjumlah sekitar 30 orang, Dolfina Mansnembra adalah satu dari tiga mahasiswa perempuan dan satu-satunya mahasiswi non-Jerman.

Kuliah teknik di Jerman tentu tidak mudah. Namun prospek kerja setelah lulus cukup menjanjikan. Oleh karena itu, meskipun kuliahnya sangat sulit, Dolfina tetap bertahan di jurusan ini dan berjuang untuk bisa segera menyelesaikan skripsinya.

Walau sibuk kuliah, Dolfina aktif di organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Münster. Dia seringkali bertemu usai jam kuliah untuk membahas kegiatan yang diselenggarakan organisasi pelajar ini.(***)