Patung Lodewijk Mandatjan Ikon RS Bhayangkara Papua Barat

Patung Lodewijk Mandatjan Ikon RS Bhayangkara Papua Barat

Patung Lodewijk Mandatjan ayah dari Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, diresmikan serta diabadikan sebagai ikon dalam Rumah Sakit Bhayangkara Lodewijk Mandatjan, usai upacara HUT ke 72 Bhayangkara di Mapolda Papua Barat, Rabu (11/7)

Kabid Dokkes Polda Papua Barat, AKBP dr Sariman mengatakan, jauh sebelum nama Lodewijk Mandatjan digunakan sebagai nama RS Bhayangkara dan juga untuk pembuatan patung, Polda Papua Barat sudah mendapat ijin dan restu dari Gubernur Papua Barat sebagai anak.

Patung itu sebagai penghormatan dan pengharapan atas dedikasi beliau yang merupakan panutan, baik sebagai Kepala Suku Arfak dan juga pejuang.

“Patung ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam mengisi kemerdekaan termasuk di bidang kesehatan,” ungkapnya.

Saat ini RS Bhayangkara Lodewijk Mandatjan merupakan rumah sakit tipe D/kelas IV. Ini ditetapkan berdasarkan beberapa persyaratan seperti memiliki minimal 50 atau maksimal 100 tempat tidur pasien.

“Saat ini kita sudah miliki 50 tempat tidur yang merupakan hibah dari RS Kramat Jati Jakarta. Pada akhir Desember, akan ada penambahan 50 tempat tidur lagi,” ungkapnya.

Dari aspek SDM, secara organik memiliki 23 personil yakni 4 dokter umum, 3 medis dan sisanya umum. Padahal, sesuai ketentuan pengoperasian rumah sakit tipe D, SDM yang dibutuhkan minimal 60/70, minimal 4 dokter umum, dan minimal 4 pelayanan spesial dasar yakni kebidanan, bedah, anak dan penyakit dalam.

Hanya saja, ada dispensasi minimal 2 pelayanan dasar untuk RS Bhayangkara Lodewijk Mandatjan.

“Kami belum bisa operasi secara keseluruhan. Dari segi spek sarana, masih ada beberapa bangunan penting yang belum bisa terbangun karena keterbatasan anggaran. Seperti kamar operasi dan ruang ICU. Padahal, lahan, design bangunan dan RAB sudah ada,” jelasnya lalu mengatakan RS Bhayangkara Lodewijk Mandatjan sudah memiliki ijin operasional dari Dinas Kesehatan.

Sementara itu, Gubernur sangat berterimakasih pada Polda Papua Barat yang telah menggunakan nama dan juga membuat patung ayahnya sebagai ikon rumah sakit tersebut.

Gubernur berharap ke depan rumah sakit ini bisa beroperasional dengan maksimal.

Gubernur lalu bercerita singkat tentang ayahnya. Lahir tahun 1916 dan meninggal tahun 1976, ayahnya merupakan satu dari tiga kepala suku besar Arfak.

Ayahnya pada zaman Belanda, merupakan polisi. Saat Perang Dunia II pecah, ayahnya turut berperang melawan Jepang dan menyerang tujuh pos di wilayah Manokwari.

Atas jasa tersebut, ayahnya mendapatkan penghargaan pangkat Kapten. Penganugerahan itu diberikan di pangkalan kolonial Belanda di Numfor.

Ketika penyerahan Irian Barat ke NKRI, ayahnya bersama Barendz Mandacan (ayah Sekprov, Nathaniel Mandacan) dan juga Irogi Meidodga, ikut berjuang bersama pasukan Trikora dan berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di lapangan Borarsi.

Atas pencapaian itu, ayahnya mendapat penghargaan dari pemerintah Indonesia dengan pangkat Mayor, Barendz Mandacan mendapat penghargaan pangkat Kapten, dan Irogi Meidodga mendapat penghargaan pangkat Letnan.(njo)