Kementerian Keuangan Gelar Kuliah Umum di STIE Mah Eisa

Kementerian Keuangan Gelar Kuliah Umum di STIE Mah Eisa

Mahasiswa semester 1 dan 3 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mah EISA Manokwari mendapat asupan materi tambahan dalam bentuk kuliah umum dari Kementerian Keuangan terkait Kebijakan Fiskal Indonesia, Rabu (7/11/2018) sore.

Kepala Sub Bidang Pengembangan Model Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Yasir Niti Samudro SEAk MPP PhD mengatakan mahasiswa wajib tahu apa kebijakan fiskal pemerintah, karena kebijakan fiskal bertujuan menciptakan masyarakat yang aman dan sejahtera.

“Tiap tahun kami keliling ke kampus-kampus yang ada (jurusan) ekonominya. Sekira 15 provinsi di Indonesia untuk mensosialisasikan kebijakan fiskal dan sekaligus meng-update perekonomian terkini,” ujar Yasir usai kuliah umum.

Kementerian Keuangan Gelar Kuliah Umum di STIE Mah Eisa

Dia mengatakan kebijakan fiskal Indonesia mengarah pada pembangunan manusia dan pendidikan, di mana pembangunan infrastruktur berjalan tapi mengutamakan pembangunan non fisik.

Dia lalu mencontohkan tahun 2019 pemerintah tidak jor-joran untuk mengambil utang dibanding 2018. Ini terlihat dari defisit yang direncanakan di tahun 2019 hanya 1,84 persen, sedangkan 2018 sekira 2,12 persen.

Dia berharap melalui kuliah umum ini mahasiswa bisa memahami APBN itu untuk apa, menghitungnya bagaimana, faktor apa yang mempengaruhinya.

Dia lalu kembali mencontohkan kebijakan pemerintah soal pengurangan subsidi BBM. Seharusnya, menurutnya, tidak boleh ada demo mahasiswa yang tidak mendasar soal BBM ini. Sebab, subsidi BBM tergantung dari harga BBM, nilai tukar Rupiah dan pemakaiannya.

Kementerian Keuangan Gelar Kuliah Umum di STIE Mah Eisa

“Kalau makin banyak pakai, makin banyak uang terbakar. Mending untuk beasiswa atau bangun jembatan,” jelasnya.

Dia kemudian menegaskan tidak anti demo. “Kalau demo ya pakai nalar. Ini merugikan rakyat atau tidak? Kalau subsidi kebanyakan kan juga tidak baik,” ingatnya.

Terpisah, Ketua STIE Mah Eisa Manokwari, Teodorus L Herin SE SPd MM berharap
mahasiswa mampu memahami kebijakan fiskal, serta bisa menjadi bahan diskusi di dalam maupun di luar kampus.

“Ekonomi merupakan ilmu berkembang. Mahasiswa harus setiap saat menggali dan mengembangkannya. Berbeda dengan ilmu mati seperti matematika,” bebernya.

Dia mengakui banyak mahasiswa tidak berfikir secara akademis untuk mengimplementasikan kebijakan pemerintah. Padahal, kebijakan pemerintah turun untuk kepentingan rakyat.

“Karena tidak dipandang secara akademis, akhirnya mahasiswa turun demo dan memprotes kebijakan pemerintah,” ungkapnya.

Ditanya soal keterlibatan STIE Mah Eisa, selama ini, pemerintah lebih melakukan kerjasama dengan Unipa yang punya jurusan ekonomi pembangunan dibanding STIE yang memiliki program management keuangan.

Dia berharap agar ke depan pemerintah daerah dalam melakukan kajian dapat melibatkan dosen dan mahasiswa STIE.

“Kita utamanya management keuangan yang ada kaitannya dengan management keuangan daerah. Itu akan sejalan. Selama ini, kalau ada kegiatan, kita tidak dilibatkan. Secara SDM, alumni STIE sudah tersebar di pelosok Nusantara. Tiga di antaranya saat ini bekerja di Kementerian Keuangan,” tandasnya.(njo)