Terpanggil Untuk Kaum Perempuan dan Kesetaraan Gender

Petrik DCW Palandeng bersama Ketum Golkar Airlangga Hartarto
Petrik DCW Palandeng, salah satu caleg Partai Golkar ke DPR Papua Barat,, bersama Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto, dalam temu kader dan pelantikan Bappilu Golkar Papua Barat di Manokwari, 8 Februari 2019.

“Saya terpanggil untuk menyuarakan aspirasi perempuan, memajukan mereka dan menyeratarakan mereka.”

Demikian ungkapan salah satu caleg perempuan dari Partai Golkar, Petrik DCW Palandeng, yang bertarung memperebutkan kursi DPR Papua Barat saat ditemui papuakini.co, Jumat (8/2/2019).

Masalah sosial yang berada di hadapannya selama ini membuat dia merasa perlu berada di kursi dewan untuk memperjuangkan sejumlah persoalan perempuan yang dia lihat selama ini.

“Saya lihat kaum perempuan masih memiliki banyak kekurangan. Masih banyak yang putus sekolah. Masih banyak kaum perempuan yang tertintas di lingkungan tumah tangga lantaran KDRT,” ungkap istri Ketua Golkar Manokwari Selatan Wempi Rengkung itu.

Petrik DCW Palandeng bersama Ketum Golkar Airlangga Hartarto
Petrik DCW Palandeng salah satu caleg perempuan Partai Golkar ke DPR Papau Barat, bersama suami Wempi Rengkung yang juga Ketua Partai Golkar Manokwari Selatan.

Itu tidak berarti perempuan mengambil tahta laki laki, tapi perempuan harus mampu berdaya saing sehingga setara dalam kehidupan sosial, sama dalam bekerja, dan bisa melihat apa yang wajib dilakukan untuk kemajuan daerah.

“Pemerintah memang punya ahli perencanaan, tapi ada yang spesifik. Itu yang ingin saya lakukan jika terpilih nanti. Itu lantaran peran pengawasan seorang dewan sangat berpengaruh,” ucapnya.

Perempuan di kursi dewan pun kata dia bukan hanya sebagai pelengkap. “Jangan beranggapan perempuan hanya memenuhi syarat kuota 30 persen. Perempuan maju karena ada yang ingin dia perjuangkan, dan itu untuk rakyat,” ungkapnya.

Soal kompetitor, dia mengatakan semua berpulang pada pilihan masyarakat.

“Semua punya impian, hak dan angan-angan. Tergantung Tuhan berkenan dan berkehendak. Soal suara, semua diukur oleh masyarakat sebagai pemilih.
Yang dibutuhkan itu optimisme, ditambah kehendak Tuhan. Siapapun yang maju, itu bukan pesaing, tapi kesempatan untuk dia berbuat bagi rakyat,” tuturnya.

Dia kemudian berpesan bahwa Golkar anti money politics. Masyarakat pun harus bisa menghindari diri dari itu.

“Kalau masyarakat mau menerima uang dari caleg, itu sama saja masyarakat mau membodohi diri sendiri. Ini bukan ajang tawar-menawar. Gunakan hak suara untuk menentukan nasib ke depan. Jangan gadaikan suara demi uang,” tandasnya.(njo)