Rumah Pintar Kokas Fakfak Dorong Anak Papua Jadi Technopreneur Kreatif dan Inovatif

Rumah Pintar Kokas Fakfak Dorong Anak Papua Jadi Technopreneur Kreatif dan Inovatif

Pendidikan berbasis karakter dan kreativitas jadi pembeda antara Rumah Pintar Wrikah di Kelurahan Kokas Kota, Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat dengan rumah-rumah pintar serupa lainnya.

Penekanan pada dua hal itu diyakini dapat mendorong anak-anak Papua untuk menjadi wirausahawan dan wirausahawati masa depan.

Rumah pendidikan ini merupakan produk kemitraan antara masyarakat kampung, ditopang LNG BP Tangguh dan SKK Migas, UNCEN, dan lembaga pendidikan Papua berbasis kewirausahaan Kitong Bisa.

Baca Juga :
Bupati Manokwari Setuju Siswa Baru Prioritas OAP

Siaran pers yang diterima papuakini.co dari Kitong Bisa, Minggu (26/5/2019) menyebutkan, Rumah Pintar Kokas ini dibuka Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Fakfak, Hermanto Hobrouw SPd, disaksikan Kepala Distrik Kokas, Lurah Kokas, perangkat kampung, tokoh adat, tokoh pemuda dan tokoh wanita Kokas pada 20 Mei 2019 lalu.

Rumah Pendidikan Kokas didirikan dengan metode swakelola oleh masyarakat kampung, dengan sebuah kepengurusan bersama, dengan pelatih guru lokal yang direkrut dari masyarakat setempat.

Rumah Pintar Kokas Fakfak Dorong Anak Papua Jadi Technopreneur Kreatif dan Inovatif

Pelibatan penuh masyarakat ini bertujuan untuk mendorong rasa memiliki akan pusat belajar ini dalam jangka panjang, sehingga menjamin keberlanjutannya.

Semangat ini didorong dari masalah pelik pengangguran yang cukup tinggi di Provinsi Papua dan Papua Barat, dan sangat minimnya pengusaha technopreneur.

Kondisi ini butuh pendidikan alternatif yang dapat mendorong lebih banyak lagi anak-anak asli Papua untuk menjadi pengusaha, atau juga pekerja dalam berbagai profesi, yang memiliki kreativitas dan daya inovasi tinggi.

“Dari pengalaman mengajar dan pengamatan saya selama bertahun-tahun, sebagian besar anak muda Papua hanya berharap menjadi Pegawai Negeri Sipil. Belum banyak yang berpikir untuk berkreasi dan menjadi pengusaha. Akibatnya, sektor usaha didominasi pendatang,” ujar Deisya Al-hamid, Chief Operating Officer (COO) Pusat Belajar Kitong Bisa di Fakfak, yang ditunjuk jadi pendamping pengelolaan kurikulum ajar Rumah Pintar ini.

Kitong Bisa akan mendampingi guru lokal untuk mengimplementasikan kurikulum khusus yang telah diterapkan Kitong Bisa di sembilan pusat belajarnya di Papua dan Papua Barat selama 10 tahun terakhir.

Lebih dari 1100 anak Papua telah dididik di pusat belajar Kitong Bisa sejak 2009. Sebagian dari lulusan tersebut telah menjalankan dan memiliki bisnisnya sendiri, sementara sebagian lagi memilih pekerjaan atau profesi sesuai dengan bakatnya.

Kitong Bisa menjalankan kurikulum berbahasa Inggris, yang kemudian menanamkan tujuh karakter utama yang menciptakan individu yang kreatif dan inovatif.

“Bukan berarti semua anak kami paksa menjadi pebisnis. Mereka dapat menjalankan profesi apapun yang mereka mau berdasarkan bakatnya, tetapi mereka mengerjakannya dengan kreatif dan inovatif,” tutur Deisya.

Rumah Pintar Kokas Fakfak Dorong Anak Papua Jadi Technopreneur Kreatif dan Inovatif

Dari situ ditargetkan akan ada setidaknya satu anak dan satu tim dari Rumah Pintar Kokas ini yang bisa membuat produk kreasi unggulan, untuk dikompetisikan di tingkat nasional dan internasional.

Sementara itu, Lessy Warikar dan Nancy Marau, kordinator program-program pendidikan LNG BP Tangguh memiliki harapan besar dari kerjasama ini.

Menurut mereka, dengan menggandeng Kitong Bisa, dan bermitra dengan UNCEN, serta dikelola oleh masyarakat setempat, maka semangat dari kerjasama tiga sektor, yaitu pemerintah, perusahaan swasta, dan LSM lokal dapat terwujud.

Baca Juga :
Pantau UNBK, Gubernur Harap Pengalihan Kewenangan Bawa Perubahan

“Kami berharap Kitong Bisa dapat memperkenalkan metodologi baru dalam kurikulum program-program pengajaran di Rumah Pintar ini, yang dapat mengangkat karya-karya anak Kokas ke level nasional dan internasional,” ungkap mereka.

Rumah Pintar Kokas ini akan beroperasi penuh selepas bulan Ramadan, untuk menghormati umat Islam yang berdomisili di kampung dengan toleransi dan hubungan antar umat beragama tinggi ini.(***/dixie)