BNI Ajak STIE Mah Eisa Kembangkan Kampus

BNI Ajak STIE Mah Eisa Kembangkan Kampus
Dr Roberth KR Hammar SH MHum MM dari STIE Mah Eisa (kedua kanan) dan Pemimpin BNI Kantor Cabang Manokwari Maruli R Pardede (kedua kiri).

Bank Negara Indonesia (BNI) mengajak kampus dan mahasiswa STIE Mah Eisa untuk sama-sama mengembangkan kampus dan Kota Manokwari secara beriringan.

Pengembangan ini merupakan bagian dari salah satu kewajiban BNI sebagai BUMN untuk jadi agent of development di mana pun berada.

Ini dikatakan Pemimpin BNI Kantor Cabang Manokwari Maruli R Pardede di sela penandatanganan kerjasama dengan STIE Mah Eisa, Sabtu (15/6/2019).

Pardede mengatakan BNI sudah terbiasa mengelola keuangan kampus karena ada BNI di rata-rata kampus di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa seperti UI dan UGM. “BNI kalau di Jawa identik dengan bank kampus,” tuturnya.

BNI Ajak STIE Mah Eisa Kembangkan Kampus
Penandatanganan kerjasama STIE Mah Eisa dengan BNI, 15 Juni 2019.

Kerjasama pengelolaan keuangan yang nantinya berlanjut dengan STIH Bintuni di Manokwari itu dimulai dengan pembukaan rekening untuk mahasiswa, yang nantinya akan mendapatkan kartu debit BNI. Kartu bersifat pribadi dengan foto para mahasiswa itu akan berisi data mahasiswa.

Pardede sebelumnya sempat menjelaskan singkat sejarah BNI yang adalah bank pertama yang didirikan pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan, dan sempat berfungsi jadi semacam bank sentral sebelum kini dilaksanakan Bank Indonesia.

Dia juga menyentil berbagai produk unggulan BNI seperti BNI Direct. Salah satunya, misalnya, nanti kala orangtua mau bayar biaya pendidikan tak perlu ke bank lagi karena bisa dilakukan lewat ATM.

Baca Juga :
Pesparani Katolik Pertama Papua Barat Digelar Oktober

“24 jam per hari tujuh hari per minggu. Jadi seperti Sabtu ini kita tidak kenal libur. Kalau pakai BNI direct bisa transaksi seolah-olah BNI punya cabang di kampus sini secara sistem,” jelasnya.

Sementara itu, Dr Roberth KR Hammar SH MHum MM dari STIE Mah Eisa, dalam sambutannya mengisahkan tentang STIE Mah Eisa dan STIH Bintuni yang dikelola Yayasan Caritas, sekarang Yayasan Caritas Papua, sejak 2002 lalu.

Dia juga menggambarkan kondisi jumlah mahasiswa dan para dosen di dua sekolah tinggi itu. Saat ini ada sekira 800-an mahasiswa aktif di dua kampus tersebut, yang nantinya akan menjadi Universitas Lodewijk Mandatjan.(an/dixie)