Rombongan Gubernur 9 Jam Terjebak Lumpur di Trans Papua Barat

Rombongan Gubernur 9 Jam Terjebak Lumpur di Trans Papua Barat
Alat berat mengangkat lumpur di ruas jalan Kampung Mamey trans Papua Barat yang membuat rombongan Gubernur Papua Barat sempat terjebak selama sembilan jam.(foto: ist)

Rombongan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan terjebak lumpur selama hampir sembilan jam di Kampung Mamey, saat akan pulang ke Manokwari dari kunjungan kerja di Teluk Bintuni.

Puluhan kendaraan 4-wheel drive kabin ganda dan truk terpaksa harus bermalam di lokasi jalan trans Papua Barat itu. Bahkan ada yang menunggu sampai tiga hari.

Menurut Biro Humas dan Protokol Pemprov Papua Barat, itu dilakukan sembari menunggu alat berat atau cuaca panas di ruas jalan yang beruah jadi kubangan lumpur itu.

Rombongan baru bisa bergerak setelah alat berat tiba untuk meratakan jalan dan membersihkan lumpur.

Rombongan Gubernur 9 Jam Terjebak Lumpur di Trans Papua Barat
Kondisi salah satu kendaraan rombongan Gubernur Papua Barat setelah tiba di Manokwari, 16 Juni 2019.(foto: ist/Biro Humas dan Protokol Pemprov Papua Barat)

Seperti diberitakan papuakini.co sebelumnya, Gubernur menghadiri penutupan Temu ROhani Orang Muda Katolik se Paroki Teluk Bintuni di Merdey, Sabtu (15/6/2019) kemarin.

Rombongan terjebak lumpur mulai sekira pukul 21:00 WIT, Sabtu (15/6/2019), hingga sekira 04.30 WIT, Minggu (16/6/2019) dinihari.

Rombongan Gubernur 9 Jam Terjebak Lumpur di Trans Papua Barat
Gundukan lumpur setinggi ini di ruas jalan Kampung Mamey Trans Papua Barat membuat rombongan Gubernur Papua Barat terjebak.(foto: ist/Biro Humas dan Protokol Pemprov Papua Barat)

Rombongan yang terdiri dari, antara lain, Gubernur Papua Barat, Kadis PU Papua Barat, Kepala Biro Mental dan Spiritual, Kabiro Humas & Protokol, ADC Gubernur Papua Barat, dua Kasubag dan satu Staf Biro Humas & Protokol itu akhirnya tiba dengan selamat di Manokwari, sekira pukul 08.00 WIT, Minggu (15/6/2019) tadi.

Rombongan baru bisa bergerak setelah alat berat milik sebuah perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut meratakan jalan dan mengangkat lumpur.

Sementara itu, Daniel Pasaribu, salah seorang pengendara mobil 4-Wheel Drive rombongan Gubernur mengatakan, kondisi ini sudah terjadi sejak Januari 2019.

Baca Juga :
Ombudsman Papua Barat Harap Depo Arsip Bisa Diakses Masyarakat

Itu menyebabkan penghasilan para sopir berkurang karena harus membeli bahan makanan tambahan, bahkan bayar operator alat berat per mobil, yang berkisar Rp 500 ribu untuk menarik kendaraan yang terjebak lumpur.

Kondisi ini juga menyusahkan para penumpang, apalagi yang sudah lanjut usia dan anak-anak. Mereka terpaksa harus berjalan kaki sekira 5 kilometer di medan berlumpur untuk menumpang kendaraan lainnya yang tidak terjebak lumpur.

“Misalnya kalau kita bawa penumpang dari Manokwari, kita sudah kontak teman sopir lainnya di Bintuni untuk standby penumpang di lokasi yang lebih aman, sebagai penjagaan kalau kendaraan kami bisa terjebak lumpur yang bisa berhari-hari. Penghasilan pun kadang kita bagi dua,” tutur Daniel.(***/an/dixie)