Terlunta dan Kelaparan di Trans Papua Barat, Tertolong Tentara dan Polisi

Polsek Windesi, Trans Papua Barat, Manokwari, Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Kodam XVIII Kasuari
Harus menyeberangi kali selebar sekira lima meter dengan kedalaman sepaha orang dewasa, karena jalan yang hanya bisa dilalui satu mobil terhalang mobil yang terjebak kubangan lumpur di Trans Papua Barat.

Penulis: Hendrik Akbar

Delapan pekerja pers melakukan liputan kondisi jalan Trans Papua Barat dari Manokwari ke Teluk Bintuni via Manokwari Selatan. Kami sempat terlunta dan kelaparan.

Saat pergi dari Manokwari ke Bintuni, kami hanya berjalan kaki selama sekira satu jam di Jalur berlumpur di Distrik Tahota, Kabupaten Manokwari Selatan karena hanya ada satu titik kubangan lumpur yang menjebak kendaraan.

Tapi, ketika pulang Senin (17/06/2019), kami berjalan hingga tiga jam karena ada tiga titik kubangan lumpur yang menjebak kendaraan. Hujan deras sehari sebelumnya membuat ketinggian lumpur beragam mulai dari betis hingga pinggang orang dewasa.

Pemandangan yang mengharukan pun terlihat ketika orang tua, anak anak bahkan orang tua menggendong anak. herus berjalan di lumpur pecek.

Terlunta dan Kelaparan di Trans Papua Barat, Tertolong Tentara dan Polisi

Apakah memang kondisi iklim, atau ada solusi untuk mengatasi kondisi ini.

Dua pertanyaan itu muncul kala saya berhenti sejenak memperhatikan betapa lelahnya penumpang yang harus berjalan kaki, plus bawa barang bawaan, dengan ekstra hati-hati agar tak terpeleset di licinnya lumpur.

Bayangan saya buyar karena mendadak hujan rintik turun, dan hari mulai gelap sementara perjalanan masih jauh.

Kami pun melanjutkan perjalanan di kegelapan malam dengan modal penerangan dari dua senter.

Dalam perjalanan yang meletihkan itu, di titik kubangan ketiga, ada mobil terjebak di kolam bebek dengan lima mobil lainnya antri di belakangnya.

Terlunta dan Kelaparan di Trans Papua Barat, Tertolong Tentara dan Polisi

Ruas jalan itu hanya bisa dilewati satu mobil dan bersebelahan dengan kali. Mau tak mau, kami harus menyebrangi kali. Tanpa pengalas kaki, kami menyeberangi kali selebar sekira 5 meter itu.

Satu per satu kami melintasi kali sedalam sepinggang itu sembari berpegangan di pepohonan.

Ditemani suara burung, kodok, jangkrik dan suara binatang yang tak bisa saya identifikasi, kami akhirnya tiba di camp Mambramo sekira pukul 21.00 WIT setelah berjalan sekira 2 jam 56 menit.

Sayangnya, dari 10 mobil yang tertahan di camp itu, tak ada mobil yang seyogyanya membawa kami pulang ke Manokwari. 10 mobil itu ditumpangi rombongan kemah rohani Advent yang hendak menuju Bintuni.

Terlunta dan Kelaparan di Trans Papua Barat, Tertolong Tentara dan Polisi

Kondisi semakin sulit kala 10 mobil itu kembali ke Manokwari di lokasi yang tak ada jaringan telekomunikasi seluler itu.

Tersisa kami 8 orang. Kami memutuskan untuk bermalam dan memikirkan langkah selanjutnya.

Keesokan harinya, kami mulai membahas cara untuk mendapatkan akses telekomunikasi. Jika tidak, kami bisa kelaparan karena tidak ada biaya makan.

Saat itu mendadak melintas mobil dinas Kodam XVIII/ Kasuari yang akan menjemput seorang pejabat Kodam. Niko dari TVRI dan Edi Musahidin dari papuabaratnews diijinkan menumpang ke Ransiki.

Mobil itu hanya bisa ditambah dua orang karena bak belakang mobil tidak bisa ditumpangi. Mereka berdua akan mencari kendaraan di Ransiki untuk menjemput kami.

Tersisa 6 wartawan. Saya dari papuakini.co, Hans Arnold dari Jubi.com, Gustavo papuabaratonline.com, Hanas Warpur dari Wartaplus.com, Tomi Warpur dari Orideknews.com, dan Marthias Renyaan dari MNC TV.

Kami memutuskan menumpang truk pengangkut material pengerasan jalan untuk pergi ke tempat yang disebut warga sebagai gunung sinyal. Kami tiba di situ sekira pukul 13.35 WIT.

Terlunta dan Kelaparan di Trans Papua Barat, Tertolong Tentara dan Polisi

Hanya ada jaringan telefon dan SMS di situ. Dengan HP yang baterainya hampir habis, kami menghubungi rekan-rekan di Manokwari untuk membantu mencarikan kendaraan, lantaran nomor kontak sopir mobil yang seyogyanya menjemput kami sudah tidak aktif.

Waktu terus berjalan. Langit makin gelap karena mendung. Hembusan angin kian kencang. Belum ada kendaraan yang bisa kami tumpangi ke Ransiki. Padahal, hanya di ibukota Manokwari Selatan itu kami bisa menarik uang dari ATM untuk menyewa mobil yang akan membawa kami kembali ke Manokwari.

Baca Juga :
Majelis Kode Etik Minta Bukti Absen

Tiba tiba melintas mobil gardan ganda milik Polsek Windesi. Kami mengehentikan mobil itu. Anggota Polsek Windesi mengijinkan kami menumpang sampai Ransiki karena kita satu tujuan.

“Meski hanya bisa duduk di bak belakang mobil, tapi syukur. Yang penting bisa sampai,” ucap Gustav.

Setibanya di Ransiki, kami dengan mudah mencari kendaraan angkutan untuk membawa kami ke Manokwari.

Baca Juga :
Gubernur Ingatkan Koperasi dan UKM Harus Bisa Berdayakan Ekonomi Kerakyatan

Menggunakan dua kendaraan dari sana, kami akhirnya tiba di Manokwari sekira pukul 20.00 WIT. Lebih satu hari dari estimasi.

Terima kasih Pak Tentara dan Pak Polisi.(*)