Dinas Perikanan Bintuni ‘Utang’ 889 Proposal, Sekkab Ingatkan Teliti

Dinas Perikanan Bintuni 'Utang' 889 Proposal, Sekkab Ingatkan Teliti
Sekkab Teluk Bintuni Gustaf Manuputy (kanan depan) menyaksikan penyerahan bantuan perikanan di Dinas Perikanan Teluk Bintuni, 23 Januari 2020. (foto: ist/humasbintuni)

Dinas Perikanan Pemkab Teluk Bintuni menerima 1.148 proposal dalam kurun 2016-2019. Dari jumlah itu 259 di antaranya sudah direalisasikan. Berarti masih ada 889 proposal.

Data ini diungkapkan seorang kepala bidang dinas itu dalam penyerahan bantuan nelayan yang diserahkan Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw, diwakili Sekkab Gustaf Manuputy, di halaman kantor dinas itu, Kamis (23/01/2020).

Menanggapi itu, seperti dilansir Bidang Humas dan Protokoler Bintuni, Sekkab mengingatkan Dinas Pertanian untuk mencermati tiap proposal yang masuk, termasuk koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk memastikan tidak terjadi tumpang tindih penerima bantuan di mana penerima bantuan ternyata sudah menerima bantuan dari dinas lainnya.

Dinas Perikanan Bintuni 'Utang' 889 Proposal, Sekkab Ingatkan Teliti
Sekkab Teluk Bintuni Gustaf Manuputy (tengah) foto bersama usai penyerahan bantuan perikanan di Dinas Perikanan Teluk Bintuni, 23 Januari 2020. (foto: ist/humasbintuni)

Sekkab juga mengingatkan setiap proposal yang harus diteliti, jangan disimpan begitu saja.

“Itu salah. Harus disampaikan ke masyarakat bahwa keadaannya seperti ini. Jelaskan seterang-terangnya, agar masyarakat paham dan tahu. Jangan sampai mereka berharap dan menunggu,” tutur Sekkab.

Sementara itu, bantuan yang disalurkan pada para pengaju proposal selama ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Otonomi Khusus.

Bantuan dari DAK adalah Casco Fiber 21 unit, motor tempel 15 PK 21 unit, jaring ikan dan udang masing-masing 21 buah, COD 21 unit, senter 21 unit, teropong 21 unit, dan cool box 21 unit.

Bantuan dari Dana Otonomi Khusus berupa motor tempel 50 unit, cool box 50 unit, dan jaring ikan dan udang masing-masing 270 buah.(***/dixie)

Baca Juga :
Kisah Natalia, 12 Tahun Jadi Guru Honorer, Bakal Dimutasi ke Moskona Timur Jauh