Rektor Unipa Sempat ‘Dikeroyok” Kepala Daerah

Rektor Unipa Sempat 'Dikeroyok
Rektor Unipa, Dr Meky Sagrim SP MSi.

Rektor Unipa, Dr Meky Sagrim SP MSi, pernah ‘dikeroyok’ sejumlah kepala daerah di Papua Barat.

Menurut Rektor Unipa yang berulangtahun ke 52 pada 05 Mei 2021 ini, peristiwa itu terjadi pada 22 Mei 2020, empat hari setelah dia dilantik sebagai Rektor Unipa.

“Tanggal 22 Mei 2020 saya hadir dalam rapat Forkopimda Papua Barat di lantai 1 kantor Gubernur Papua Barat. Dalam forum itu, sebagai Rektor saya cukup diserang oleh sejumah bupati karena perwakilan mereka yang mestinya diterima di Fakultas Kedokteran tidak diterima,” kenang Rektor Unipa.

Rektor Unipa yang belum setahun memimpin universitas kebanggaan Papua Barat ini mengatakan, hal tersebut berada di luar wewenangnya lantaran seleksinya dilakukan tim Universitas Indonesia (UI).

“UI itu Perguruan Tinggi Berbadan Hukum dengan standar sudah buka kelas internasional. Calon mahasiswa kita yang lulusan SMA itu sebagian besar tak lulus,” tutur Rektor Unipa.

Dalam kesempatan itu, Rektor Unipa meminta Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, dan Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, untuk membuka sekolah unggulan. Usulan itu disambut positif.

Kini, seperti diberitakan papuakini sebelumnya, sekolah unggulan Kasuari Nusantara tinggal sedikit lagi terwujud.

Akhir bulan lalu, Sekda Papua Barat meminta Unipa menugaskan sejumlah dosen untu menyusun naskah akademik SMA Kasuari Nusantara itu. Ada 9 dosen yang ditugaskan untuk itu.

Rektor Unipa menegaskan sangat mendukung pembukaan sekolah itu. Rektor berharap para siswanya nanti adalah perwakilan terbaik dari kabupaten/kota se Papua Barat.

Setelah lulus dari SMA Kasuari Nusantara mereka bisa diutus untuk masuk ke fakultas kedokteran, atau fakultas-fakultas lainnya di berbagai universitas di Indonesia.

Atau, bisa juga program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) diambil dari lulusan SMA Kasuari Nusantara tersebut.(an/dixie)

Rektor Unipa, Dr Meky Sagrim SP MSi, pernah ‘dikeroyok’ sejumlah kepala daerah di Papua Barat.

Menurut Rektor Unipa yang berulangtahun ke 52 pada 05 Mei 2021 ini, peristiwa itu terjadi pada 22 Mei 2020, empat hari setelah dia dilantik sebagai Rektor Unipa.

“Tanggal 22 Mei 2020 saya hadir dalam rapat Forkopimda Papua Barat di lantai 1 kantor Gubernur Papua Barat. Dalam forum itu, sebagai Rektor saya cukup diserang oleh sejumah bupati karena perwakilan mereka yang mestinya diterima di Fakultas Kedokteran tidak diterima,” kenang Rektor Unipa.

Baca Juga :
Lepas 47 Lulusan, Dekan Faperta Unipa Dorong Jadi Wiraswasta

Rektor Unipa yang belum setahun memimpin universitas kebanggaan Papua Barat ini mengatakan, hal tersebut berada di luar wewenangnya lantaran seleksinya dilakukan tim Universitas Indonesia (UI).

“UI itu Perguruan Tinggi Berbadan Hukum dengan standar sudah buka kelas internasional. Calon mahasiswa kita yang lulusan SMA itu sebagian besar tak lulus,” tutur Rektor Unipa.

Dalam kesempatan itu, Rektor Unipa meminta Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, dan Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, untuk membuka sekolah unggulan. Usulan itu disambut positif.

Kini, seperti diberitakan papuakini sebelumnya, sekolah unggulan Kasuari Nusantara tinggal sedikit lagi terwujud.

Akhir bulan lalu, Sekda Papua Barat meminta Unipa menugaskan sejumlah dosen untu menyusun naskah akademik SMA Kasuari Nusantara itu. Ada 9 dosen yang ditugaskan untuk itu.

Rektor Unipa menegaskan sangat mendukung pembukaan sekolah itu. Rektor berharap para siswanya nanti adalah perwakilan terbaik dari kabupaten/kota se Papua Barat.

Setelah lulus dari SMA Kasuari Nusantara mereka bisa diutus untuk masuk ke fakultas kedokteran, atau fakultas-fakultas lainnya di berbagai universitas di Indonesia.

Atau, bisa juga program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) diambil dari lulusan SMA Kasuari Nusantara tersebut.(dixie)