Ini Realita Covid-19 Papua Barat Menurut Master Epidemiologi

Ini Realita Covid-19 Papua Barat Menurut Master Epidemiologi
Direktur RSU Papua Barat, dr Arnoldus Tiniap MEpid.

Kondisi Covid-19 Papua Barat dalam sebulan terakhir memburuk seiring semakin banyaknya masyarakat yang terpapar virus tersebut. Walhasil Papua Barat pun dikenakan status PPKM Darurat untuk Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong, serta PPKM Diperketat untuk 12 kabupaten lainnya.

Kenapa demikian? Berikut penuturan Dokter (dr) Arnoldus Tiniap Master Epidemiologi (MEpid), birokrat sekaligus praktisi kesehatan masyarakat yang juga Direktur RSU Provinsi Papua Barat.

Master Epidemiologi alumnus Universitas Indonesia tahun 2012 ini mengatakan dengan kondisi saat ini sangat kecil kemungkinan untuk memblokir penularan Covid-19.

Alasannya? Masyarakat yang kurang mematuhi PPKM yang diberlakukan, plus kurang efektifnya pelaksanaan dan pengawasan PPKM tersebut.

“PPKM belum efektif karena kita baru membatasi orang pada saat malam hari, di mana secara biologis manusia memang sudah harus kembali ke rumah. Seharusnya PPKM itu sepanjang dari pagi sampai sore. Terutama penggunaan makser saat berinteraksi,” kata Arnoldus Tiniap.

Pria kelahiran Kepi di Kabupaten Mappi, kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Merauke, Papua, ini mengatakan jika tracing contact Covid-19 dilakukan di kabupaten-kabupaten yang kurang aktif melaporkan perkembangan pandemi Covid-19, seperti Maybrat, Tambrauw, dan Pegunungan Arfak, maka angka penularan yang tiap hari mencapai tiga digit itu bisa lebih banyak lagi.

Lalu solusinya apa?

“Jalan satu-satunya adalah vaksinasi Covid-19. Dengan kondisi masyarakat yang tak bisa diubah (untuk menjalankan prokes dan PPKM) seperti saat ini, tak bisa lagi menghindar. Semua akan terpapar. Jika sudah divaksin, walau secara fisik kita terpapar, tapi karena tubuh kita sehat lantaran sudah divaksin, maka kita tidak akan sakit,” beber Arnoldus Tiniap.

Pria yang bertugas di Dinas Kesehatan Papua Barat medio 2007, kemudian dipercaya memimpin RSU Provinsi Papua Barat medio Juni 2020 ini mencontohkan negara tetangga Singapura.

Baca Juga :
55 Orang Positif Covid-19 di 31 Agustus

Menurutnya, karena di sana sudah 80 persen warganya divaksin, maka sudah tercipta herd immunity atau kekebalan kelompok. Ini membuat Covid-19 saat ini sudah dianggap sebagai flu biasa di negara itu.(an/dixie)