Manajemen Sarana Prasarana Berbasis Ruang Pembelajaran SMKN 6 Masni

Manajemen Sarana Prasarana Berbasis Ruang Pembelajaran SMKN 6 Masni
Rustamaji, Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan UNCEN Angkatan 2021.

Penulis: Rustamaji

Mahasiswa Magister
Manajemen Pendidikan
UNCEN Angkatan 2021

Penulis: Rustamaji

Mahasiswa Magister
Manajemen Pendidikan
UNCEN Angkatan 2021

Salah satu institusi sekolah yang mempersiapkan peserta didiknya untuk mampu terjun langsung di dunia kerja setelah lulus adalah sekolah menengah kejuruan (SMK).

Upaya peningkatan kualitas lulusan SMK telah dilakukan sejak berdirinya sekolah pertukangan pertama di Indonesia pada tahun 1853 di Surabaya.

Sekolah kejuruan di Indonesia telah berusia satu setengah abad hingga sekarang apabila sekolah tersebut dijadikan patokan.

Manajemen Sarana Prasarana Berbasis Ruang Pembelajaran SMKN 6 Masni

SMK dipersiapkan untuk mencetak tenaga trampil yang siap bekerja dengan berbagai kompetensi dan mampu mengikuti perkembangan Iptek.

Hal tersebut sesuai dengan penjelasan Pasal 15 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003, yang menyebutkan bahwa:

“SMK merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan kejuruan mempunyai tujuan umum untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didik kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki akhlak mulia, pengetahuan dan wawasan kebangsaan yang luhur; serta mempunyai tujuan khusus yaitu menyiapkan peserta didik dengan pengetahuan, kompetensi, teknologi dan seni agar menjadi manusia produktif, maupun bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi.”

A. Dinamika Pasar Kerja dan Keterampilan Peserta Didik

Minat masyarakat untuk menempuh pendididikan kejuruan tidak terlepas dari tingkat keterserapan lulusan SMK di pasar kerja.

Perubahan di pasar kerja dapat diindikasikan oleh perubahan penyerapan tenaga kerja lulusan sistem pendidikan dan pelatihan.

Persaingan lulusan SMK dalam pasar kerja untuk mendapat pekerjaan semakin ketat, karena peningkatan jumlah lulusan tak sebanding dengan pertumbuhan lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian mereka.

John F Thompson, salah satu pakar pendidikan kejuruan, dalam bukunya yang berjudul Foundations of Vocational Education, menyatakan bahwa pendidikan kejuruan menggerakkan pasar kerja dan berkontribusi pada kekuatan ekonomi suatu negara (1973:93).

Oleh karena itu, SMK harus mampu memberikan kontribusi terhadap daya saing bangsa, sebagaimana didorong melalui Inpres No 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK.

Saat ini perkembangan teknologi agribsinis, baik pertanian dan peternakan (ruminansia) semakin canggih. Jadi, untuk meningkatkan efisiensi dan produksi, sudah sepatutnya menggunakan teknologi yang terkini.

Baca Juga :
NEGARA HADIR MELAWAN "HATE SPEECH"

Selain itu, SMK dituntut untuk mampu menyiapkan lulusan yang kompeten di bidangnya untuk memasuki industri dan dunia kerja di bidang agribisnis.

Saat ini SMKN 6 Masni memiliki program keahlian:

1. Agribsinsi tanaman pangan dan holtikultura
2. Agribisnis ternak ruminansia.
3. Agribisnis tanaman perkebunan

Kondisi Sarana Prasarana SMKN 6 Masni

Pada tahun anggaran 2021, melalui alokasi DAK, SMKN 6 Masni mendapatkan bantuan peralatan praktek utama untuk program keahlian agribsinis tanaman pangan dan holtikultura, serta agribisnis ternak dan ruminansia.

Selain peralatan praktek utama, juga mendapatkan bantuan peralatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta peratan media pendidikan berbasis IT.

Untuk pemenuhan sarana dan prasarana di bidang pembangunan, pada tahun 2021 SMKN 6 Masni mendapatkan pembangunan dua ruang pratek siswa (RPS), toilet, laboratorium komputer, ruang UKS, perpustakaan.

B. Solusi

Dengan adanya program revitalisasi SMK sesuai Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2016, tahapan yang mulai dilakukan adalah pemenuhan sarana prasarana.
Setelah sarana dan prasarana terpenuhi, selanjutnya adalah memaksimlakan fasilitas tersebut dengan membuat atau mengimplementasikan Sistem Administrasi Sekolah (SAS) berbasis Sistem Informasi Manajemen (SIM).

Dengan adanya SIM yang terintegrasi baik, pembelajaran, GTK, pelaporan, kesiswaan, dan lain lain akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas SMK.

Adanya pandemi Covid-19 telah mempercepat transformasi dari sistem berbasis offline menjadi sistem berbasis online dan hybrid.

Terkait peningkatan mutu pembelajaran, pemerintah pusat juga telah menyediakan fasilitas yang bisa dimanfaatkan sekolah untuk memaksimalkan layanan pembelajaran Bidang Penilaian (Penjaminan Mutu dan Kurikulum) di tautan ini http://103.40.55.195/

Ada 10 langkah untuk merevitalisasi SMK yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Manajemen Sarana Prasarana Berbasis Ruang Pembelajaran SMKN 6 Masni