Pemprov Puji Kolaborasi Budaya Majelis Buddhayana Indonesia

Pj Gubernur Papua Barat, diwakili Asisten II Pemprov PB, Jaconias Sawaki SH MH, dan Sekjen Bimas Buddha Kemenag RI, Caliadi SH MH, disaksikan para VVIP, menggunting pita peresmian Pusdiklat Buddha Prabha di Manokwari, Jumat (21/4).

Gelar Rapimnas II di Manokwari

Kolaborasi budaya yang ditunjukkan umat dan pengurus Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) dalam peresmian Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Buddha Prabha (Cahaya Budha) dan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II MBI di Manokwari, Papua Barat, menunjukkan tingginya toleransi warga Tanah Papua dengan suku lainnya di Indonesia.

Ini dituturkan Pj Gubernur Papua Barat, Drs Eko Subowo MBA, diwakili Asisten II Pemprov PB, Jaconias Sawaki SH MH, dalam acara tersebut, Jumat (21/4).

“Mari kita jaga kolaborasi budaya. Perbedaan kita saling hormati sebagai kebhinnekaan NKRI. Apalagi sudah banyak perkawinan antara warga Tionghoa dengan orang Papua. Penari barongsai di Manokwari juga banyak orang Papua,” kata Sawaki, kemudian membacakan sambutan tertulis Pj Gubernur di kegiatan yang diikuti pengurus MBI dari 25 provinsi itu.

Dalam sambutan tertulis itu, Pj Gubernur juga menekankan tentang keberagaman tapi satu kita, serta kerukunan dan toleransi.

Sebelumnya, Ketua Panitia Rapimnas, Susanto Pirono, yang juga MBI Papua, mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu terealisasinya kegiatan itu, serta pembangunan Pusdiklat Buddha Prabha.

Pemilihan Papua Barat, khususnya Manokwari, sebagai lokasi Rapimnas II, diputuskan dalam rapat MBI 2 tahun lalu. Salah satu alasannya adalah untuk mengikuti jejak Presiden Joko Widodo untuk memberi bobot penting pada Tanah Papua.

Bahwa Indonesia yang kaya raya dengan diaspora yang membuat decak kagum dunia hanya kita kenal sebagian saja. MBIkemudian mengajak semua pimpinan MBI dari seluruh daerah untuk mengenal bagian negara tertimur dari Indonesia, untuk turut merasakan kebhinnekaan di Papua Barat.

Terkait pembangunan Pusdiklat, Ketua Panitia Pembangunan Pusdiklat, Hendri, mengatakan awalnya dana yang tersedia Rp400 juta. Saat terealisasi, anggaran yang terpakai Rp6,6 M. “Terima kasih pada semua pihak yang telah membantu,” tuturnya.

Baca Juga :
Pertama di Indonesia Timur, Pusdiklat Buddha Prabha Hadir Di Manokwari

Dia juga menyatakan masih ada sejumlah fasilitas yang perlu diselesaikan, seperti pemondokan tamu dan tempat bermain anak  di vihara yang direncanakan jadi vihara sejuta stupa itu.

Rapimnas II MBI di Manokwari
Peserta Rapimnas II MBI bersiap memasuki ruangan rapat, Jumat (21/4).

Hendri juga mengatakan, karena vihara terletak di daerah lintasan pesawat, maka vihara yang diproyeksikan jadi eco vihara itu akan dipugar untuk direndahkan ketinggian gedungnya.

Acara ini turut dihadiri, antara lain, Sekjen Bimas Buddha Kemenag RI, Caliadi SH MH, Kakanwil Kemenag PB Urbanus Rahangmetan MTh, Pangdam XVIII/Kasuari Mayjen Joppye Onesimus Wayangkau, dan Kapolda PB Brigjen Martuani Sormin Siregar.

Seperti diberitakan sebelumnya, kegiatan ini diwarnai dengan tari-tarian yang kental nuansa Papua yang dilakukan penari-penari campuran warga Tionghoa dengan orang Papua.

Pembukaan Rapimnas II MBI yang akan berlangsung hingga 23 April itu ditandai dengan penabuhan tifa sebanyak 5 kali oleh Sawaki, sedangkan peresmian Pusdiklat Buddha Prabha ditandai dengan pengguntingan pita merah, disaksikan oleh para VVIP.(dixie)