Mama-mama Papua Bisa, Trampil dan Kreatif

Maria Kuhn bersama Mama Mama Papua.

“Mama Papua Bisa.” Itulah ungkapan nan penuh semangat yang dibarengi senyuman manis dari bibir seorang perempuan kelahiran Jerman, Maria Kuhn, bagi para Mama Papua dihadapan papuakini.co, Jumat, (30/6).

Maria menceritakan bahwa keberadaannya bersama para Mama Papua sudah dimulai sejak bulan Maret dalam wadah Papua Design.

Menurut perempuan yang 20 tahun lalu menginjakkan kakinya di Raja Ampat itu, keinginannya untuk merajut seni bersama para Mama Papua adalah karena ketergerakan hati untuk berbagi ilmu dan membantu memberdayakan mereka yang selaras memiliki kemauan untuk bekerja terampil.

Maria yang juga fasih berbicara Bahasa Indonesia itu memuji kinerja dan ketrampilan para Mama Papua yang dinilai sangat baik.

“Seni itu sesuatu yang tidak mudah, selain berkarya dan berbisnis, saya juga ingin membantu mereka untuk bisa trampil dalam menghasilkan karya dan bekerja,” ucapnya.

Maria Kuhn menunjukkan salah satu motif Papua hasil kerajinan tangan Mama Mama Papua.

“Saya bahagia karena mereka kreatif, cepat tangkap, mengerti kualitas, pikiran cepat, dan dan mudah diajak kerjasama,” sambungnya lagi.

Dia berencana membuat program pemberdayaan perempuan, membuka pusat galeri, dan terus melatih para Mama Papua dengan berkonsentrasi pada seni motif Papua.

“Saya ada banyak program dan ingin sekali merajut seni dengan berkonsentrasi pada motif Papua. Untuk mendapatkan hasil yang bagus saya tetap menggunakan kain katun asli Indonesia yang didatangkan dari pulau Jawa, dan tinta ramah lingkungan untuk mendapatkan kualitas terbaik,” pungkas perempuan yang pertama kali menginjakkan kaki di Papua dengan kapal Cavalier Sailor itu.

Sementara itu, tiga Mama Papua, Florida Reba, Mince Chlumbless dan Lefina Duwit menceritakan proses pembuatan kain untuk bantal kepala, bantal duduk dan tas gantung.

“Untuk dapatkan kualitas terbaik, kami menggunakan kain berbahan katun. Prosesnya, pertama bahannya diukir dengan motif. Kemudian cetakan dilukis dengan cat khusus. Setelah itu kainnya digantung untuk dikeringkan, lalu dimasukkan ke mesin pres. Proses paling akhir adalah menjahitnya,” tutur ketiga mama Papua tersebut.

Baca Juga :
5 Hari Internet di Kaimana Putus Total

Berbagai ketrampilan tangan yang sudah dibuat dan dijual diantaranya adalah syal, bantal kursi, bantal kepala, dan kartu ucapan.(jjm)