Apa Yang Terjadi Kala Pemuda Pemudi Papua Barat Diskusi Dengan Kantor Staf Presiden?

Apa Yang Terjadi Kala Pemuda Pemudi Papua Barat Diskusi Dengan Kantor Staf Presiden?
Diskusi pemuda pemudi Papua Barat dengan Kantor Staf Presiden RI, berkolaborasi dengan Kitong Bisa, di Manokwari 12 Maret 2019.(foto: ist/KSP)

Apa yang terjadi jika pemuda-pemudi Papua Barat berdiskusi untuk pembangunan dengan Kantor Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia di Manokwari 12 Maret 2019 lalu?

Berbagai pendapat dan usulan dari perspektif kaum millennial pun bertebaran dalam ajang yang difasilitasi Kitong Bisa, lembaga nirlaba yang menyediakan pendidikan kewirausahaan gratis di Tanah Papua, dengan Deputy 5 KSP RI itu.

Siriwai Adrianus Kuwei menyentil ‘kemerdekaan’ dengan mengenang pernyataan ayahnya saat dia masih kecil.

“Waktu saya kecil, Bapa saya pernah berkata pada saya: kalo ko mau merdeka, pegang buku, baca, dan belajar keras,” ujar Siriwai yang pimpinan sebuah organisasi pertukaran pemuda antar negara itu.

Itu berarti bahwa pada hakikinya, kemerdekaan dari sekelompok masyarakat, tidak terkecuali orang Papua, adalah ketika mereka ke luar dari kebodohan dan ketertinggalan, di mana jalan satu-satunya adalah melalui pendidikan.

Lain halnya dengan Jack Wanggai. Peserta diskusi yang adalah aktivis pembela hak-hak para nelayan di Papua Barat ini menyoroti pola pendekatan yang dilakukan pemerintah pusat selama ini.

Apa Yang Terjadi Kala Pemuda Pemudi Papua Barat Diskusi Dengan Kantor Staf Presiden?
Peserta diskusi bersama Kantor Staf Presiden RI. (foto: ist/KSP)

Menurutnya, Jakarta selalu berpikir pendekatan pembangunan versi Jakarta yang paling tepat. Seharusnya, pola pembangunan adalah mendengar dari bawah, dari masyarakat Papua sendiri, dengan membuat program pembangunan yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat asli.

Lain lagi dengan Yulianus Yogi, Ketua Kitong Bisa Cabang Manokwari, dan Adolof Fonataba, aktivis mahasiswa UNIPA.

Bagi mereka diskusi positif seperti ini harus diperbanyak, untuk mempersiapkan generasi muda yang akan melanjutkan estafet pembangunan Papua dalam ranah NKRI menggantikan para senior.

Mereka menegaskan para pemimpin senior Papua harus komit melakukan kaderisasi pemuda untuk mengambil tonggak tanggungjawab pembangunan Papua ke depan.

Sementara itu, Gracia Billy Mambrasar, CEO Kitong Bisa, mengapresiasi diskusi ini. Dia mendorong agar kolaborasi seperti ini dapat terus dilakukan, karena diskusi seperti ini akan melahirkan banyak sekali ide cemerlang dari anak-anak muda Papua untuk berkarya dan berkontribusi untuk membangun Papua.

Baca Juga :
Masyarakat Adat Bakung Udik Laporkan Masalah Lahan ke Kantor Staf Presiden

“Bagi saya, Pak Presiden Jokowi dan strateginya untuk mempercepat pembangunan di Tanah Papua telah berjalan dengan baik. Diskusi yang melibatkan anak muda yang telah bergerak untuk mempercepat proses pembangunan di Tanah Papua merupakan strategi tepat,” tutur Billy.

Billy juga mengaminkan pernyataan Siriwai tentang hakekat kemerdekaan, yaitu pembebasan dari Kebodohan dan kemiskinan, bukan semata-mata dalam makna politis perpecahan sebuah negara.

Tim KSP menyambangi Papua Barat untuk menciptakan diskusi berkualitas terkait pantauan perkembangan pembangunan di Papua Barat, dan mengevaluasi pendekatan kerja pemerintah sejauh ini.(***/dixie)