Angka Partisipasi Pendidikan Tinggi di Papua Cuma 18 Persen

Angka Partisipasi Pendidikan Tinggi di Papua Cuma 18 Persen
Rektor Universitas Cenderawasih Dr Ir Apolo Safanpo ST MT dalam seminar tahunan ke-empat Kelompok Lingkar Studi Papua (LSP), Perhimpunan Pelajar Indonesia di UK (PPI-UK) di University of Nottingham, Inggris, 22 Juni 2019. (foto: ist)

Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Papua hanya sekira 18 persen, jauh di bawah rata-rata nasional yang 31,5%.

Ini dikatakan Rektor Universitas Cenderawasih Dr Ir Apolo Safanpo ST MT dalam seminar tahunan ke-empat Kelompok Lingkar Studi Papua (LSP), Perhimpunan Pelajar Indonesia di UK (PPI-UK) di University of Nottingham, Inggris, 22 Juni 2019 lalu.

Dengan kata lain, ada lebih dari 80% anak-anak muda Papua usia kuliah yang belum  terakomodasi di jenjang pendidikan tinggi.

“Hingga tahun 2014, dari 300 ribu lebih putra-putri Papua berusia antara 19-24 tahun, hanya sekitar 60 ribuan yang dapat mengenyam pendidikan tinggi, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Provinsi Papua,” ujar Rektor dalam siaran pers Lingkar Studi Papua yang diterima papuakini.co.

Baca Juga :
Ayu Bataray: Setiap Sekolah Mesti Punya Laboratorium dan Perpustakaan

Ini disebabkan minimnya daya tampung perguruan tinggi di Papua yang tidak seimbang dengan laju pertambahan penduduk Papua, dan jauhnya rasio dosen dan mahasiswa.

“Saat ini seorang dosen di Uncen harus mengajar lebih dari 200 orang mahasiswa, sedangkan idealnya rasio dosen-mahasiswa adalah 1:50 untuk bidang studi eksak dan 1:30 untuk bidang studi sosial,” ujar Rektor yang mengawali karirnya sebagai staf pengajar di Fakultas Teknik Uncen itu.

Angka Partisipasi Pendidikan Tinggi di Papua Cuma 18 Persen
Seminar tahunan ke-empat Kelompok Lingkar Studi Papua (LSP), Perhimpunan Pelajar Indonesia di UK (PPI-UK) di University of Nottingham, Inggris, 22 Juni 2019.(foto: ist)

Rektor juga mengatakan selama ini fokus perhatian pemerintah terhadap pendidikan di Papua lebih banyak dicurahkan pada pendidikan dasar dan menengah.

Oleh karena itu, butuh sinergi dan koordinasi baik antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan perguruan tinggi.

Rektor dalam seminar, yang juga menampilkan Staf Ahli Menlu RI, Dr Teuku Faizasyah tersebut, turut menyorot pemanfaatan dana Otsus untuk mengirim pelajar Papua.

Baca Juga :
Papua Berkumandang di Konferensi Internasional di Inggris

Rektor menilai hal itu perlu dicermati lebih mendalam. Prosesnya mesti dilakukan lebih selektif.

“Misalnya untuk program-program studi yang belum ada di dalam negeri. Selebihnya dapat diarahkan untuk meningkatkan kapasitas perguruan tinggi dalam negeri, khususnya di Papua,” tegas Rektor.(***/dixie)