Kesenjangan Ekosospol Bisa Jadi Pemicu Konflik Agama

Kesenjangan Ekosospol Bisa Jadi Pemicu Konflik Agama
Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan (kedua kanan), Pangdam XVIII Kasuari Mayjen Joppye Onesimus Wayangkau, dan Kapolda Papua Barat Brigjen Herry Rudolf Nahak dalam dialog kebangsaan di Hotel Aston Niu Manokwari, 3 Desember 2019.

Kesenjangan Ekonomi, Sosial dan Politik (Ekosospol) bisa menjadi pemicu konflik antar umat beragama. Ini dikatakan Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan saat membuka dialog kebangsaan di Hotel Aston Niu Manokwari, Selasa (03/12/2019)

Tiga faktor itu kerap dijadikan faktor pembenaran terjadinya konflik umat beragama. Untuk mencegahnya perlu dikedepankan dialog yang bersifat dialogis, dan bertumpu atas dasar ketulusan, keterbukaan, dan keterusterangan untuk menyelesaikan masalah.

Sorotan tema membumikan toleransi dan melangitkan perbedaan, Papua Barat sebagai rumah kebhinnekaan saat menggugah perasaan, karena tema itu berbicara tentang bumi yang selalu berisi kisah kehidupan yang terus terjadi dalam peradaban manusia.

“Bumi adalah rumah bagi siapa saja yang bernyawa dan tidak bernyawa. Di bumilah terjadi berbagai peristiwa tentang kebaikan, kejahatan dan tentunya tentang kedamaian. Bicara tentang langit yang tinggi, luas dan pastinya menyejukkan,” ujar Gubernur dalam kegiatan yang digelar Biro Mental dan Spritual Papua Barat itu.

Berawal dari kasih sayang bumi, seharusnya setiap manusia harus memiliki sikap saling menghormati, dan menghargai seperti toleransi dan lapang dada di setiap perbedaan, baik itu pandangan, suku, agama, maupun warna kulit.

“Perbedaan itu harus jadi pemandangan indah jika semua saling bersandar. Tak ada yang lebih indah dari saling mengasihi. Budaya kita yang merupakan warisan leluhur jangan sampai punah. Apalagi tenggang rasa, toleransi dan gotong royong adalah identitas kita. Perbedaan itu tidak boleh jadi sekat,” pesannya.(an/njo)

Baca Juga :
Wagub Ingatkan Badan Penghubung Provinsi Adalah Duta Besar