Think Coffee dan Cacao, Relawan Pemberdayaan Petani di Pegaf dan Tambrauw

Think Coffee dan Cacao, Relawan Pemberdayaan Petani di Pegaf dan Tambrauw
Ketua Tim Think Coffee dan Cacao, Dr Ir Antonius Suparno MP dari Unipa (kiri), dan Wakil Ketua, Dr Ir Aser Rouw MSi dari BPTP.

Think Coffee dan Cacao memberdayakan petani di kawasan seputaran Anggi Gida, Kabupaten Pegunungan Arfak dan Kebar, Tambrauw sejak 2016 lalu.

Bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), kumpulan relawan ini membenihkan kopi dan cacao kualitas unggul lalu membagikannya ke petani di sana, khususnya kopi, sekaligus intensif memberi pendampingan teknologi penanaman dan pemanenan bersama sejumlah LSM dan isntansi terkait.

Jumlahnya tidak sedikit. Sekira 21.000  (bukan 2.100, red) benih kopi diberikan melalui Dinas Pertanian Pegaf, lalu disebar ke masyarakat melalui gereja dan LSM pada 2016-2018 lalu.

Penanamannya disesuaikan dengan kondisi petani setempat, yaitu disisip di antara tanaman-tanaman lainnya di pekarangan atau kebun masyarakat. Metode ini membuat sayuran yang biasa ditanam masyarakat setempat tetap tumbuh.

Sinergitas ini berhasil karena di 2019 tanaman itu sudah mulai berbuah, khususnya di kawasan Pamaha, sekitar danau Anggi, dan daerah belakang danau.

Think Coffee dan Cacao, Relawan Pemberdayaan Petani di Pegaf dan Tambrauw

“Kita lakukan itu dalam konteks pembangunan berkelanjutan di Papua Barat, agar komoditas unggulan daerah kita bisa jadi aset masyarakat lokal, sekaligus mendorong perekonomian lokal. Tim relawan ini hadir untuk mendorong percepatan tercapainya tujuan itu,” ujar Ketua Tim Think Coffee dan Cacao, Dr Ir Antonius Suparno MP dari Unipa, didampingi Wakil Ketua, Dr Ir Aser Rouw MSi dari BPTP.

Dari Pegaf, tim ini merambah ke kawasan Tambrauw medio April 2020 lalu. Petani yang mendapatkan bibit dari tim menanamnya dengan sistem agroforestry di lahan seluas 3 hektar di sana.\ dna ditanami 4.000 benih kopi.

Cara itu membuat hutan tetap terjaga, kayu aman, tapi di lantai hutan tertanam kopi dengan jarak tanam baik yang diharapkan sudah bisa produksi 2-3 tahun ke depan.

Baca Juga :
Perekonomian Papua Barat Diharapkan Bisa Menggeliat Lagi Juli

Penggunaan benih unggul dan teknologi pertanian dan alat pertanian tepat dengan produksi baik tentunya semua bermuara di pemasaran dan penjualan.

Tim berprinsip keuntungan terbesar produksi petani itu ada pada petani, minimal 60 persen, sehingga petani terdorong untuk terus menanam dan menghasilkan kopi kualitas baik.

“Tidak hanya jual buah kopi saja, tapi bagaimana kupas, jemur, dapat green bean bagus, laluj dipasarkan dengan harga bagus,” ungkapnya.

Pasar awal tentunya regional Papua Barat. Di sini butuh sinergitas dengan swasta, khususnya para roaster dan barista, di Manokwari agar membeli kopi produksi petani lokal, tidak hanya membeli kopi dari, misalnya, Wamena, Gayo, dan Kintamani.

Dengan segala upaya ini, tim terbuka untuk bersinergi dengan siapa saja yang punya kepedulian serupa untuk memajukan petani lokal, agar kendala-kendala yang dihadapi tim, seperti keterbatasan mobilitas kendaraan dan benih kopi, bisa teratasi.(an/dixie)