Belum Sempat Orasi, Kampanye Paslon Terkabul Dibubarkan Polisi

Belum Sempat Orasi, Kampanye Paslon Terkabul Dibubarkan Polisi
Aparat keamanan di lokasi kampanye pasangan Terkabul di Pantai Bantemi.

Kampanye pasangan calon nomor urut 1 Pilkada Kaimana, Fredi Thie – Hasbullah Furuada, dibubarkan polisi di-backup Brimob bersenjata lengkap walau pasangan itu belum berorasi di Pantai Bantemi, Sabtu (28/11/2020).

Pantauan papuakini, sejak pagi massa pendukung dan simpatisan pasangan Terkabul sudah mulai berdatangan di lokasi kampanye. Di waktu bersamaan, aparat yang telah berjaga langsung meminta mereka untuk kembali.

Walau begitu, ada masyarakat yang nekad tetap masuk ke areal lokasi kampanye. Semakin lama massa yang berkumpul mencapai ribuan orang. Bukan hanya di darat, namun para pendukung dan simpatisan Terkabul juga terlihat mengitari laut Pantai Bantemi menggunakan longboat berhias bendera partai pendukung.

Membludaknya massa membuat pihak aparat yang langsung Kapolres Kaimana AKBP Iwan P Manurung SIK mengambil tindakan persuasif dengan mengingatkan agar masyarakat segera membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Peringatan itu sempat membuat massa pendukung paslon Terkabul adu mulut dengan aparat.

Belum Sempat Orasi, Kampanye Paslon Terkabul Dibubarkan Polisi
Paslon Terkabul berkoordinasi dengan Komisioner Bawaslu Kaimana, Hasan Siwansiwa.

Kondisi ini membuat paslon Terkabul memutuskan untuk bertemu dengan pihak Kepolisian dan Bawaslu Kaimana yang diwakili salah satu komisionernya, Hasan Siwansiwa. Dalam pembahasan alot itu Bawaslu mengijinkan kampanye digelar asalkan dibatasi hanya diikuti 50 orang sesuai regulasi.

Menurut Hasan, Bawaslu hanya bertanggungjawab terhadap 50 orang yang ada di dalam tenda, sementara mereka yang berada di luar tenda bukan menjadi kewenangan Bawaslu. Mendengar penjelasan ini, Paslon terkabul sempat meminta agar dibuatkan surat kesepakatan tertulis bahwa massa yang berada di luar tenda tidak boleh dibubarkan dan tetap mengikuti kampanye.

“Pendukung kami yang datang ini atas kesadaran sendiri tanpa ada paksaan. Kami minta agar kalau boleh mereka tatap ada selama kampanye dan jangan dibubarkan. Kalau boleh kita buat dalam bentuk kesepakatan tertulis,” kata Fredi Thie.

Fredi Thie juga menilai langkah pembubaran ini tidak adil karena mereka belum sempat melakukan orasi politik. Menurutnya, penanganan kali ini berbeda dengan saat deklarasi dukungan Pala Hitam terhadap paslon nomor urut 2 belum lama ini.

“Kalau mau tegas, harusnya dilakukan sejak awal pendaftaran di KPU. Kenapa sampai hari ini baru ada langkah pembubaran. Padahal dalam kampanye-kampanye lalu, ada banyak massa yang berkerumun,” tegasnya.

Baca Juga :
Di Kaimana Hanya BPKAD dan RSUD Yang Tetap Ngantor
Belum Sempat Orasi, Kampanye Paslon Terkabul Dibubarkan Polisi
Ketua Tim Pemenangan Terkabul, Lewi Orouw (kemeja kuning) berkoordinasi dengan Kapolres Kaimana AKBP Iwan P Manurung SIK.

Setelah melalui koordinasi yang alot dan permintaan untuk tidak membubarkan massa tak tidak menemui kata sepakat, akhirnya paslon Terkabul bersama tim memutusan untuk membatalkan kampanye, lau meminta massa pendukung membubarkan diri dengan aman dan tertib setelah makan siang.

Sementara itu, Kapolres Kaimana mengatakan Kapolri dan Kapolda
berulangkali secara tegas memerintahkan seluruh jajaran yang melaksanakan Pilkada agar tidak ragu-ragu apabila ditemukan kerumunan saat kampanye maupun tahapan Pilkada silahkan koordinasikan dan dibubarkan.

Menurut Kapolres, ketegasan ini bukan hanya dilakukan terhadap pasangan Terkabul, tetapi juga pernah dilakukan terhadap paslon Risma saat acara deklarasi dukungan Pala Hitam belum lama ini.
“Kita perlakukan sama, baik ke Biru atau Merah. Waktu itu saya perlakukan sama saat deklarasi yang dilaksanakan oleh Merah, itupun saya bubarkan. Kita intervensi agar tidak ada arak-arakan dan kita bubarkan. Ini pun Biru tetap kita antisipasi,” tegas Kapolres.

Kapolres lalu mengingatkan kedua tim bahwa saat ini kita berada dalam masa Pandemi Covid-19, sehinga upaya pencegahan perlu dilakukan.

“Kaimana walaupun mungkin belum ada korban seperti di tempat lain yang sampai meninggal dunia, kenapa kita tidak mencegah hal itu. Salah satu contohnya kerumunan seperti ini bisa menjadi cluster baru,” tutup Kapolres.(yos)