‘Anu Bungkus’ dan Pernah Kena Covid-19 Juga Aman Divaksin

'Anu Bungkus' dan Pernah Kena Covid-19 Juga Aman Divaksin
Direktur Rumah Sakit Provinsi Papua Barat, dr Arnoldus Tiniap MEpid.

Direktur Rumah Sakit Provinsi Papua Barat, dr Arnoldus Tiniap MEpid, menyatakan warga ‘anu bungkus’ juga aman untuk divaksin Covid-19 produksi S‌inovac, China.

“Jadi informasi yang disebar soal vaksin seperti itu tidak benar. Hoax. Mungkin maksud awalnya untuk lucu-lucuan saja,” ujarnya menjawab pekerja pers, Rabu (03/03/2021).

Hanya saja, harus dipastikan mereka tidak ada komorbid, atau penyakit penyerta/bawaan, seperti penyakit paru-paru dan jantung, yang memperparah dampak Covid-19. Komorbid menjadi penyebab terbanyak kematian pasien Covid-19 di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan.

Tiniap juga mengatakan k‌ini warga yang usianya 60 tahun ke atas, dan atau yang tekanan darahnya sampai dengan 180 juga bisa divaksin Covid-19. Dulu vaksinasi hanya diberikan pada orang usia 18-60 tahun dan atau tekanan darah maksimal 140.

Perbolehan ini, tutur Tiniap di sela Pencanangan Vaksinasi Covid-19 Tahap II Papua Barat dan Kabupaten Manokwari Serta Pelaksanaan Vaksinasi Massal Kabupaten/Kota se Papua Barat, di Arfak Convention Hall, Mapolda Papua Barat, karena hasil di Brazil dan Turki vaksin Sinovac juga diberikan pada lansia di atas 60 tahun.

“Data dari berbagai negara itu dikumpul, lalu diteliti pemerintah,” jelas Tiniap.

Selain vaksin Covid-19 buatan Sinovac, yang pertama kali masuk Indonesia, Indonesia juga menggunakan vaksin Covid-19 produksi PT Bio Farma, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Novavax, Pfizer-BioNTech, Oxford-AstraZeneca, dan Moderna.

Selain itu, warga yang pernah terpapar Covid-19 juga aman divaksin, dengan catatan sudah sembuh minimal 3 bulan dari penyakit itu.

Tiniap menegaskan vaksin Covid-19 serupa dengan vaksin-vaksin lainnya yang diberikan ke kita saat kecil, seperti BCG, campak, dan polio, yang memberi efek samping seperti suhu badan naik selama 1-2 hari pada sejumlah penerima vaksin. “Jadi gejala (efek samping ringan-ringan saja,” tandas Tiniap.(dixie)