Gubernur Papua Barat Resmikan Tugu Pengampunan Pater Auxilius Guikers di Momi Waren

Gubernur Papua Barat Resmikan Tugu Pengampunan Pater Auxilius Guikers di Momi Waren
Gubernur Papua Barat, sekaligus Kepala Suku Besar Arfak, Dominggus Mandacan, dalam peresmian Tugu Pertobatan pembunuhan Pater Auxilius Guikers OFM (inzet), dan doa pertobatan, pengampuan, pemulihan, dan ucap syukur bersama, antara lain, Bupati Manokwari Selatan, Markus Waran, Wakil Bupati Manokwari Selatan, dan Pastor Pastor Januarius Vaernbes Pr dari Paroki Santo Agustinus Manokwari, 23 April 2021.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, meresmikan Tugu Pengampunan Pembunuhan Pater Auxilius Guikers OFM (Ordo Fratrum Minorum) di Kampung Dembek, Distrik Momi Waren, Kabupaten Manokwari Selatan, Jumat (23/04/2021).

Pater Auxilius Guikers OFM meninggal pada 16 April 1942 dalam usia 31 tahun karena dieksekusi Jepang.

Sebelum dieksekusi, Pater yang disuruh menggali makamnya sendiri, sempat meminta waktu untuk berdoa, dan dikabulkan. Sebelum doanya selesai tentara Jepang menikamnya dengan dua pedang dari sebelah kiri tembus sebelah kanan.

Almarhum menjadi Fransiskan selama 11 tahun dan sebagai imam hanya 5 tahun, termasuk 4 tahun 4 bulan di Fakfak dan Manokwari Selatan.

Beberapa hari setelah dieksekusi, dua tokoh masyarakat setempat, Yafet Ainusi dan Corneles Ainusi, memerintahkan masyarakatnya untuk membongkar makam dan mengambil kepala sang Pater untuk prosesi adat

Gubernur Papua Barat Resmikan Tugu Pengampunan Pater Auxilius Guikers di Momi Waren

Itu mereka lakukan karena kesalahpahaman lantaran mengira yang dimakamkan adalah tentara Jepang, yang saat itu sangat kejam bahkan membunuhi masyarakat setempat.

“Inilah kita berbuat dosa. Hari ini kita ada bersama resmikan Tugu Pengampunan ini. Kita berdoa pertobatan, pengampunan, pemulihan, dan ucap syukur,” ujar Gubernur Papua Barat.

 

Gubernur Papua Barat kemudian mengingatkan hal itu jangan dilakukan di tugu ini saja, tapi saat pulang ke rumah doa juga minta ampun dan minta pemulihan.

“Pasti Tuhan dengar,” tegas Gubernur Papua Barat yang juga Kepala Suku Besar Arfak turunan Lodewijk Mandatjan ini, dalam kegiatan yang dihadiri Bupati Manokwari Selatan, Markus Waran, Wakil Bupati Manokwari Selatan, Wempi Welly Rengkung, dan masyarakat setempat.

Gubernur Papua Barat menegaskan dalam beberapa tahun ke depan pasti anak-anak setempat akan menjadi orang-orang penting dalam bidang masing-masing, termasuk dalam pemerintahan.

Kondisi serupa, tegas Dominggus Mandacan, terjadi saat masyarakat Arfak, atas inisiatif (Almarhum) Drs Esau Sesa, Bupati pertama Manokwari, bersama Sinode GKI di Tanah Papua, menggelar doa pertobatan, doa pemulihan, dan doa ucap syukur bersama dengan melibatkan seluruh denominasi gereja di Pulau Mansinam pada 05 Februari 1990.

Baca Juga :
Gereja Katolik Imanuel Hentikan Sementara Misa Publik

“Semua keluarga besar Arfak di pesisir, lembah, gunung diundang datang. Saya datang dari Serui. Tuhan jawab doa itu. Dalam waktu 10 tahun, tahun 2000 yang bicara ini jadi Bupati Manokwari,” beber Gubernur Papua Barat.

Selanjutnya, anak-anak Arfak pun semakin banyak yang diberkati dan jadi kepala daerah seperti Markus Waran (Manokwari Selatan), Yosias Saroy (Pegunungan Arfak), (Almarhum) Demas Paulus Mandacan (Manokwari, dan Hermus Indou (Manokwari).

Doa dalam kegiatan ini dipanjatkan Pastor Januarius Vaernbes Pr dari Paroki Santo Agustinus Manokwari, mewakili Uskup Manokwari Sorong.(an/dixie)