BERPISAH

Oleh:
F Winar

Terima kasih atas hari yang bersama kita lalui, meski kita memilih jalan pintas dan setapak yang tak biasa dilewati. Rimbun pepohonaan, tinggi ilalang dan semak berduri biasa kita hadapi, dengan bergandeng tangan. Bercerita dan bernyanyi bersama merupakan kekuatan untuk terus melangkah bersama.

“Aku cinta kau.” Desahmu sepanjang waktu. “Aku selalu mencintaimu.” Aku selalu membalas hal yang sama. Yang terpenting adalah cinta yang mengikat jiwa dan raga kita berdua.

Terima kasih telah memulas aneka warna di kanvas hidupku. Setiap warna yang tergores adalah ceritera ceria kita menghadirkan mentari menerangi sudut-sudut gelap kelelahan hidupku.

“Kau membuat hidupku menjadi sempurna, bahagia yang kurasa saat kita bersama. Dan ini tak pernah kurasakan sebelumnya,” kau ucapkan saat kita menari bersama.

“Apapun kulakukan untuk membuatmu bahagia.” Janjiku untukmu. Kau juga telah menuliskan huruf untuk merangkai kata dan menjalinnya menjadi kalimat dan menyusun sebuah ceritera indah tentang kita. Ceritera yang tak habis didongengkan di malam-malam yang kita lewatkan bersama.

Terima kasih atas menderasnya adrenalin saat kita berkejaran dengan waktu untuk berlari dan bersembunyi di rerimbunan hutan yang lebat.

“Kita harus segera bertemu. Kangen.” Katamu di tengah malam di telepon yang berisik karena badai di tempatmu.

“Apa? Kau gila! Ada berapa negara yang akan kau lalui,” responku yang jelas bertentangan dengan hatiku.

“Kucoba atur waktuku, jangan pedulikan hal duniawi yang tak kita bawa mati.” Itu yang menutup mulutku untuk menjawabnya. Dan kaupun muncul di depanku. Aku bersyukur atas kegirangan yang menjalar saat kita jauh menyelam di dasar samudera perasaan yang berpalung dan bergelung. Semua serba mungkin dan semuanya itu indah.

Itu dulu, ketika kekuatan cinta mencapai puncak. Dan sekarang sudah tiba saatnya. Kita harus kembali ke jalan utama. Karena onak duri makin tajam melukai diri dan jalanan makin curam terjal berbatu. Sementara mata hati kita mulai rabun. Sehingga kita terjatuh dan terjatuh lagi. Ceritera dan nyanyian kita makin sumbang. Sehingga kita tak senada dan seirama suarakan nyanyian hati.

“Aku minta maaf, karena aku tak sanggup melewati waktu dan jarak untuk menemuimu. Berbicara denganmu pun memerlukan banyak pertimbangan dengan situasi yang makin sulit ini,” katamu di suatu waktu.

“Aku harus berkata apa? Tak ada yang harus kukatakan kalau situasi yang bicara.” Kataku dengan menahan getar yang siap memuntahkan air mata. Aku hanyalah wanita yang hanya mampu menunggu dan menunggu. Kau yang menemukanku dan kau yang meninggalkanku. Dan hatiku membisikkan kata kalau inilah saatnya. Kita sudah sampai pada saatnya.

Ketika saatnya berpisah tiba, tak ada kata yang mampu mengungkapkan segala rasa yang melanda. Biar hanya hati dengan hati yang saling bicara dan sukma dengan sukma saling menyapa. Raga tak kuasa lagi untuk ayunkan kaki bersama. Biarlah air mata tetap air mata, luka jiwa tetap menjadi luka jiwa. Waktu yang akan menyembuhkannya. Sama halnya dengan waktu yang telah membawamu padaku dia pun yang merenggutmu dari pelukanku.

Selamat jalan, Cinta. Kita telah sampai di persimpangan dan arah yang harus diambil tidaklah sama. Langkah untuk kita sudah sampai batas dan lari kita sudah sampai tepi. Tidak ada jalan untuk kita berdua lagi. Kau pun akan kembali di jalan yang ditebari permadani untuk ditapaki dan kuntum mawar yang mewangi yang mengiringi. Tegapkan langkah dan ringankan ayunan kaki, seiring tembang cintamu yang menyemangati. Songsong mentari yang cerah menerangi. Pergi dan rentangkan jarak yang makin menjauh dari titik temu kita.

Baca Juga :
SUNYI

Akupun walau sempat berhenti dan merenung, bergegas beranjak. Aku kembali ke gunung yang berkabut. Dan ketika kabut menyambut, aku pasrah tenggelam dalam pekatnya yang merenggutku dari impianku bersamamu. Dan dari ketinggian aku samar melihatmu tegak menapak, aku ingin berlari menujumu, memelukmu dalam kegelapan dan kedinginan yang menakutkanku. Aku ingin bergelung dalam dekapanmu yang menghangatkan dan merajut mimpi dalam damai malam-malammu. Dan ketika kubuka mata hanya kau dan kau yang memenuhiku.

Tahukah dunia kalau kita pernah bersama meski kita dari belahan dunia yang berbeda? Dan tahukah kalau sakitnya sakitku saat ini begitu memilu?

“Jangan menungguku, aku tak mungkin kembali. Maafkan aku.” Masih terngiang kalimat terakhir yang mengawali langkah kakimu menjauhiku.\

Duh Cinta, bagaimana engkau bisa mengatakannya? Bukankah kalimat itu adalah pedang bermata dua yang akan membelah hati kita berdua dengan sisi-sisinya? Bagaimana engkau menyusun kata-kata itu yang setiap ujarannya adalah ledakan yang meratakan harapan hidup? Bagaimana engkau melakukannya sementara engkau tahu sangatlah dahsyat akibatnya?

Berpisah darimu adalah memisahkan sukma dari ragaku. Aku adalah lukisan tak berbingkai yang akhirnya terbengkalai sebelum terpajang di pameran hidup. Aku adalah malam yang gelap yang tak pernah bergulir tanpa pernah melihat matahari. Aku adalah hitam yang memekat, air yang membeku kemudian membatu, nyanyian panjang yang tak bersuara. Masihkan ada arti hadirku tanpa dirimu?

Hanya kau dan kau yang selama ini memenuhiku, nafasku tak terhembus tanpa aromamu yang menyertaiku. Detak jantungku tak berderak tanpa tenangamu yang memompa dengan cintamu. Gerak tubuhku tak gesit menapak tanpa genggammu yang menuntunku. Bagimana ini? Bagaimana aku melanjutkan hidup ini? Semua terasa mengambang, aku adalah ruang kosong tak perpenghuni, rongga berlubang tak terisi. Hanya angin yang berhembus melewati dan menghalau sisa yang melekat di ari.

Hujan badai yang menghampiri tak terasa walau melukai. Lara yang menyelimuti tak terasa perih walau air mata terus membasahi pipi. Petir yang menyambar tak terasa menampar walau tubuh makin terbakar. Sakitnya sakit membuat sarafku tumpul. Pedihku, laraku menjadikan rasa tawar yang harus kucicipi. Inikah kematian dalam kehidupan? Tak berbataskah antara hidup dan mati? Larutkah kenyataan dalam impian?

Selamat jalan, Cinta. Pergilah meski senandung sumbangku mengambang. Tak apa kau bawa jiwaku, hidupku bersamamu. Aku yakin suatu saat, bila malam telah bosan memelukku juga akan beranjak pergi dan pagi pasti akan menyapa kembali. Mentari akan terbit lagi memberi hidup untuk matiku yang yang tengah mengintai. Dan aku akan menjadi saksi bahagiamu saat kau capai ujung permadani dan kemilau mempelaimu bersinar menyambutmu.(*)