Bank Indonesia Papua Barat Hadirkan Wanita Sejuta Dollar di Temu Responden

Bank Indonesia Papua Barat Hadirkan Wanita Sejuta Dollar di Temu Responden
Wanita sejuta dollar Merry Riana bersama Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani(kanan) dan Kepala Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat, S Donny H Heatubun, di Manokwari, 19 November 2019.

Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi ini. Salah satunya adalah dengan menggelar Temu Responden 2019 di sebuah hotel di Manokwari, Selasa (19/11/2019).

Kegiatan ini menghadirkan ‘wanita sejuta dollar’ Merry Riana yang baru saja meluncurkan buku Langkah Sejuta Suluh, yang mengisahkan langkah yang ditempuhnya hingga menjadi sosok seperti saat ini.

Langkah Sejuta Suluh terbitan Gramedia Pustaka Utama medio April 2019 lalu adalah buku ketiga Merry Riana setelah biografinya, Mimpi Sejuta Dolar, yang terbit sekira tiga tahun lalu.

Buku pertama Merry Riana yang terbit pada 2006 bertajuk A Gift From A Friend, yang berisi kisah pengalaman hidupnya selama di Singapura.

Lalu siapa Merry Riana?

Wanita kelahiran Jakarta, 29 Mei 1980 ini dikenal sebagai seorang motivator, direktur, dan pengusaha sukses. Nama jebolan Nanyang Technology University, Singapura ini mencuat saat dia berhasil meraih pendapatan sejuta dolar pada tahun 2007, walau sempat jatuh bangun dan punya banyak utang.

Pencapaiannya ini diberitakan surat kabar nasional Singapura, The Straits Times terbitan 28 Januari 2007.

Dengan latar belakang seperti itu, tak pelak Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani berharap agar para peserta kegiatan BI tersebut bisa menyimak semua materi yang disampaikan, agar bisa muncul Merry Riana-Merry Riana dari Papua Barat.

Sebelumnya, Kepala BI Perwakilan Papua Barat, S Donny H Heatubun, memaparkan kondisi ekonomi nasional dan Papua Barat.

Dia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan III tumbuh 5,02 persen, relatif sama dengan triwulan II yang 5,05 persen (yoy).

“Cadangan devisa akhir Oktober sejumlah 124,3 M USD,
setara pembiayan 7,2 bulan impior, atau 7 bulan impor tambah bayar utang luar negeri pemerintah. Angka ini di atas standar kecukupan internasional 3 bulan impor,” tuturnya.

Baca Juga :
Peringati Baden Powell 113, Lakotani Katakan Pramuka Strategis Ciptakan Pemimpin Masa depan

Untuk inflasi, disebutkan per Oktober 2019 inflasi secara nasional 2,5 persen. Angka ini sangat rendah dan terkendali dan tetap berada pada rentang target inflasi akhir tahun 3,5 persen plus minus 1 persen.(an/dixie)