Ghana-Pantai Gading Bikin Kartel, Petani Biji Coklat Papua Barat Bakal Mandi Uang

Ghana-Pantai Gading Bikin Kartel, Petani Biji Coklat Papua Barat Bakal Mandi Uang
Petani kakao di Ghana, Afrika barat.

Iklim bisnis biji coklat saat ini sedang bagus menyusul keputusan Ghana dan Pantai Gading untuk membuat kartel coklat.

Dua negara di Afrika Barat ini adalah produsen lebih dari 60 persen biji coklat dunia, sekira 3 juta metrik ton per tahun.

Dua negara itu memutuskan memberi premi atau tambahan harga USD 400 setiap metrik ton biji coklat dari dua negara tersebut, setelah sebelumnya berkutat di angka USD2600 metrik ton.

Pembentukan kartel ini, oleh Wall Street Journal, disebut COPEC, plesetan dari OPEC yang merupakan kartel produsen minyak dunia, diperkirakan akan membuat harga coklat dunia akan melambung mulai Oktober 2020 mendatang.

Ghana-Pantai Gading Bikin Kartel, Petani Biji Coklat Papua Barat Bakal Mandi Uang
Berbagai produk berbasis kakao bakal melambung harganya.

Kenaikan baru akan terjadi saat itu karena kebanyakan pembeli coklat membelinya dengan sistem kontrak setahun, seperti yang terjadi pada ekspor kakao Ransiki melalui Manokwari, Papua Barat, 9 Januari 2020.

Kenaikan harga coklat itu akan juga mendongkrak produk makanan seperti coklat dan es krim.

Sementara itu, menurut investing.com, sejauh ini setidaknya tiga produsen makanan berbasis coklat Amerika Serikat mendukung pengenaan premi coklat Ghana dan Pantai Gading tersebut.

Tiga perusahaan itu adalah Mars, Hershey, dan Mondelez. Mars dikenal memproduksi, antara lain, M&M’s, Snickers, Mars, Skittles, dan Twix.

Hershey di Indonesia dikenal dengan produk coklat batangan seperti Hersehy dan KitKat, sedangkan Mondelez dengan antara lain Toblerone, Cadbury, dan Oreo.

Investing.com juga mengatakan harga kakao yang ditransaksikan di New York pekan kedua Januari 2020 ini dengan harga USD 2.491 per ton, hampir 17% di atas kakao London yang ditransaksikan dengan harga USD 2.376 per ton, tergantung dari mana bahan baku yang didapatkan untuk membuat coklat.

Jadi, semestinya petani biji coklat di Papua Barat, khususnya Ransiki, bakal mandi uang dalam waktu dekat ini.

Baca Juga :
Ini Sejarah Irian Barat Menurut Ketua GMP

Semoga.(dixie)