Dubes RI Jerman ‘Tantang’ Perhimpunan Mahasiswa Papua

Dubes RI Jerman 'Tantang' Perhimpunan Mahasiswa Papua
Webinar Being Critical and Inspiring in Educated Ways, yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Papua Jerman bekerjasama dengan Buku Untuk Papua. (Foto: ist/PMP Jerman.)

Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Federasi Jerman, Dr Arif Harvas Oegroseno SH MH, ‘menantang’ Perhimpunan Mahasiswa Papua (PMP) Jerman untuk menggelar lomba “3 Minutes Public Speaking Competition.”

Dubes mengatakan ini dalam sambutan webinar Being Critical and Inspiring in Educated Ways, sekaligus sekaligus pengumuman pemenang lomba menulis critical essay dan inspirational stories, yang digelar PMP Jerman bekerjasama dengan Buku Untuk Papua (BUP).

Keterangan tertulis yang diterima papuakini dari PMP Jerman, Minggu (04/04/2021), menyebutkan, Dubes mengatakan selain menulis, public speaking juga merupakan skill yang tidak kalah pentingnya.

“Menulis adalah sesuatu yang sulit namun sangat penting untuk dikuasai, dan untuk menulis dibutuhkan kemampuan untuk mengobservasi sehingga bisa menghasilkan tulisan yang baik,” pesan Dubes.

Webinar dengan moderator Angel Berlian Fonataba, sekaligus ketua panitia, yang dihadiri peserta dari Sabang sampai Merauke, ini dibuka dengan mendengarkan lagu Indonesia Raya dan Aku Papua.

Dua tembang ini dinyanyikan Charolis Sayuri, Alfa Bonay, Franklyn Mansa, diiringi Rezky Mulyadi.

Juga ada pembacaan puisi oleh Charlos Pull, yang pernah diundang Gramedia untuk baca puisi di Jakarta.

Webinar dilanjutkan dengan materi dari narasumber pertama, Virly Yuriken, Program Director Misool Foundation. Virly menyampaikan tentang pemasalahan sampah yang juga menjadi salah satu tema penulisan critical essay dan merupakan fokus kerja dari Misool Foundation.

“Saya tidak ingin ketika cucu saya melaut bukan ikan yang mereka dapatkan melainkan sampah plastik,” kata Virly.

Materi kedua disampaikan Septinus George Saa, salah satu tokoh muda inspiratif pemenang First Step to Nobel Prize tahun 2004 di Warsawa, Polandia.

“Dalam menulis kita dituntut untuk berpikir kritis dan objektif tanpa ada tendensi. Selain itu, kita tidak boleh berhenti hanya sebatas menulis, tetapi harus segera mengambil peran dalam society sehingga membawa perubahan untuk Tanah Papua,” pesan tokoh muda Papua juga General Manager PT Mpaigelah ini.(*/dixie)