61. Gambaran lain: penduduk RI no. 4 di dunia, tp ekonomi kita masih no. 10. Artinya, kita msh harus bekerja lebih keras

62. Padahal sdh Orla, Orba, OrRef dan 7 presiden berjalan. Tp saat ini justru yg meruyak adalah kegaduhan

63. Kita senang meributkan persoalan sepele di DN, tp persoalan besar seperti kemiskinan, tak banyak yg singsingkan lengan

64. Mungkin krn kerja2 entaskan kemiskinan itu lama, sepi publikasi & tidak ‘heroik’ ketimbang berbagai aksi yg liput-able

65. Apalagi dibumbui label nasionalis atau label agamis. Tidak salah, tp seolah itu menjadikan pelakunya yg terhebat

66. Padahal Rasul SAW mengajarkan agama yg sangat membumi: mengentas kemiskinan itu lah yg menyempurna ibadah seseorang

67. Kemiskinan tdk bisa dientas sendirian. Ia butuh keroyokan: pemerintah, DPR, ormas, swasta, BUMN & lembaga keuangan mikro

68. Olehnya, marilah kita hentikan segala bentuk kebencian, provokasi, apalagi penerusan berita2 fitnah

69. Hentikan meneruskan informasi yg didasari logika miring, tanpa disaring, apalagi hanya utk mengejar bunyi yg nyaring

70. Ingat pepatah lama: tong kosong bunyinya nyaring. Lbh baik menyesal tp berbuat daripada menggerutu sepanjang waktu

71. Dr tanah suci sy berdoa, semoga Indonesia makin stabil negaranya, damai kehidupan warganya & sejahtera rakyatnya

72. Wallahu a’lam bi murodihi. Kepada Allah SWT lah seluruh kebenaran akhirnya disandarkan. Salam.(***)

Click here to preview your posts with PRO themes ››